Saturday, June 12, 2010

Pornografi Lebih Bahaya dari Kokain

Pemerintah harus memberikan keterangan kepada publik terkait kekhawatiran kerusakan otak generasi pelajar di Indonesia akibat maraknya peredaran video cabul di Tanah Air. "Sekarang siapa yang mau bicara diatas tentang kerusakan otak di anak. Tidak mungkin kami di bawah yang berbicara," kata Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati Elly Risman di kantor Komisi Nasional Perlindungan Anak di Jalan TB Simatupang, Jakarta, Sabtu, 12 Juni 2010. Menurut Elly, pernyataan resmi dari pemerintah tersebut tidak harus mengambil topik mengenai beredarnya video cabul yang dilakukan oleh tiga orang mirip artis. Pemerintah cukup memberikan pernyataan resmi mengenai kekhawatiran rusaknya generasi muda akibat makin banyaknya peredaran video porno di Tanah Air. Usulan tersebut mengacu pada tindakan dari Pemerintah Amerika Serikat di bawah pimpinan Presiden Bill Clinton yang menyampaikan kekhawatiranya mengenai kondisi dan perkembangan generasi muda. "Tahun 1998, Amerika Serikat melakukan konferensi resmi dan minta disiarkan di 200 kota. Bill Clinton kala itu menyampaikan agar para ayah untuk segera pulang ke rumah dan memikirkan generasi mendatang," kata Elli. Selain pemerintah pusat, Lembaga Swadaya Masyarakat ini juga meminta agar instansi yang terkait dengan tumbuh kembang anak sepeti Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional untuk segera melakukan revolusi pengasuhan anak. "Generasi sekarang ini adalah Right Now Generatif bukan native gadget generative lagi. Masih banyak orang tua yang memberikan gadget tanpa memberikan penjelasan, karena mereka menyangka teknologi bisa membayar kehilangan waktunya bersama anak," katanya.

Pornografi Lebih berbahaya

Pada bagian lain, Elli megungkapkan dampak pornografi sebetulnya lebih parah dibandingkan kokain, methamphetamine, maupun obesity. Dampak itu terkait dengan kerusakan yang dialami pada bagian-bagian tumbuh kembang di bagian otak manusia. "Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan kecanduan pada pornografi dan dampaknya terhadap penciutan otak-otan manusia," katanya. Elli menambahkan dirinya juga menyayangkan tidak adanya keinginan besar pemerintah untuk memberantas praktek pornografi. "Kita tidak punya badan anti pornografi padahal kita punya Densus 88, Badan Narkotika Nasional. Padahal pornografi ini yang merusak otak generasi, pornografi itu ibarat kokain lewat mata," ujar dia. (umi)

0 komentar:

Post a Comment