Mengusir ketombe juga bisa menggunakan cara alami. Jeruk nipis adalah salah satu buah yang dipercaya bisa mengontrol keberadaan ketombe. Arthur S Simon, dokter spesialis kulit dan kelamin dari Rumah Sakit Pertamina, Balikpapan, Kalimantan Selatan, mengatakan, jeruk nipis dapat melunturkan minyak (sebum) di kulit kepala. Dengan begitu, habitat atau tempat bersarang jamur yang merugikan pun dapat dikurangi. Selain bisa mengendalikan sebum di kepala, jeruk nipis juga bisa memberikan efek segar dan nyaman, terutama bagi kepala berketombe yang kerap dihinggapi rasa gatal. Buah yang kaya dengan kandungan vitamin C ini juga bisa membuat rambut tampak sehat dan cantik berkilau. Cara penggunaannya tidak sulit. Sebelum keramas, usapkan irisan jeruk nipis atau perasan jeruk nipis pada kulit kepala, terutama di daerah berketombe. Diamkan sekitar 15 menit sebelum membasuh dan berkeramas. Dokter spesialis kulit dan kelamin dari RS Cipto Mangunkusumo, Eddy Karta, juga merekomendasikan penggunaan tea tree oil sebagai salah satu bahan alami pengusir ketombe. Menurut Kim, sudah banyak tea tree yang dijual dalam bentuk kemasan jadi sehingga penerapannya lebih mudah. Tumbuhan dari Australia ini memiliki kemampuan sebagai antiseptik dan antijamur. Selain mengatasi ketombe, tea tree juga sering digunakan untuk mengatasi gangguan kulit lainnya, seperti kutu air, jerawat, eksem, psoriasis, infeksi jamur, bisul, dan infeksi kutu.
Menaburkan bedak tabur (talcum powder) ke sekujur tubuh usai mandi akan menambah kesegaran dan wangi tubuh. Agaknya tak banyak yang tak menyadari bahwa kebiasaan itu berbahaya bagi kesehatan tubuh. Tim peneliti dari HarvardMedicalSchool, Boston, menemukan, penggunaan bedah tabur pada tubuh bisa memicu kanker. Partikel bedak yang menempel di area genital dapat masuk ke dalam tubuh dan memicu peradangan serta perkembangan sel kanker. Dalam paparan hasil studi mereka disebut bahwa penggunaan bedak tabur pada tubuh meningkatkan risiko tumor ovarium dan endometrium. Di Inggris dan Wales, dua jenis kanker ini telah membunuh sekitar 1.000 wanita per tahun. Para peneliti juga mempelajari efek buruk bedak tabur pada wanita menopause. Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Cancer Epidemiologi, Biomarkers & Prevention itu menyimpulkan wanita menopause yang memiliki kebiasaan menaburkan beda tabur ke area genital memiliki risiko lebih besar mengidap kanker. Seperti dikutip dari laman Daily Mail, studi tersebut menunjukkan bahwa wanita mulai menggunakan bedak pada usia dini dan terus menggunakannya selama puluhan tahun. Wanita yang menggunakan bedak sekali dalam seminggu memiliki risiko 24 persen terkena kanker pascamenopause.
Dari 66 ribu responden wanita yang menggunakan bedak di area genital mereka sejak 1980-an, 600 di antaranya terbukti mengidap kanker rahim. Penelitian lain bahkan menyebut, penggunaan bedak di segala usia meningkatkan risiko kanker ovarium hingga 41 persen. Bedak terbuat dari mineral magnesium silikat lembut disebut hydrous sebagai bahan alami. Dalam tataran kimia, hydrous setara dengan kimia asbes. Bahan ini kemudian dihancurkan menjadi serbuk lalu digunakan dalam jutaan produk kosmetik wanita. Akibatnya, saat masuk ke dalam tubuh, bahan kimia akan memicu kanker paru-paru yang disebut mesothelioma, tumor di saluran panggul dan genital. Satu partikel bedak yang menempel di organ, misalnya paru-paru membutuhkan waktu selama delapan tahun untuk dihancurkan. Jessica Harris, dari Cancer Research Inggris menambahkan, penelitian ada penelitian lanjutan untuk memperdalam hubungan detail penggunaan bedak tabur di area genital dan gangguan kanker endometrium. "Cara terbaik untuk mengurangi risiko kanker endometrium adalah dengan menjaga berat badan sehat," katanya. (pet)
Kanker serviks saat ini menjadi pembunuh pertama di dunia bagi perempuan. Sebab, kanker leher rahim ini menyerang perempuan berbagai usia. Karena itu, dalam peringatan Hari Kartini, Dharma Wanita Persatuan Bojonegoro kemarin (28/4) memberikan layanan papsmear gratis kepada sekitar 400 perempuan yang berasal dari berbagai instansi dan kecamatan di Bojonegoro. Papsmear dilakukan dengan metode screening ginekologi. Metode ini untuk menemukan proses-proses premalignant dan malignant di ectocervix, dan infeksi dalam endocervix dan endometrium. "Pemberian papsmear sebagai upaya deteksi sekaligus mengantisipasi dan mencegah secara dini kemungkinan adanya kanker mulut rahim pada perempuan," kata M. Adi, petugas laboratorium Fortuna Mojokerto, kemarin. Menurut dia, deteksi harus dilakukan sejak dini, antara usia 30-40 tahun. Perempuan harus mempunyai keberanian untuk memeriksakan diri. Agar, bisa dilakukan langkah pencegahan sebelum terkena kanker serviks. "Wanita yang aktif secara seksual, disarankan untuk menjalani papsmear sekali dalam satu tahun," urainya. Endik S., salah satu peserta, mengaku antusias dengan layanan papsmear. "Ini menjadi sangat penting bagi perempuan, karena untuk melihat dan mengurangi risiko terkena kanker yang semakin banyak diderita perempuan Indonesia," papar perempuan yang sudah tiga kali papsmear ini. Anik Muspaeni, ketua Dharma Wanita Persatuan Bojonegoro mengatakan, program ini bertujuan mengajak masyarakat lebih peduli terhadap penyakit kanker serviks yang semakin meningkat. (tis/fiq)
Mengejutkan! Wahyu Ningsih (19), siswi sebuah SMKN di Muaro Jambi yang kemarin tewas menelan racun jamur tanaman, ternyata peraih nilai ujian nasional tertinggi di sekolahnya untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Ningsih, demikian kawannya biasa memanggil, mendapat nilai delapan untuk Bahasa Indonesia. Dalam SMS yang dikirim sebelum menelan racun, gadis itu mengaku sangat syok karena amplop berisi keterangan kelulusan menyebutkan bahwa ia harus mengulang tes Matematika pada bulan Mei nanti. "Kami sebenarnya diingatkan oleh guru supaya membuka amplop setelah sampai rumah saja," kata Mimi, rekan Ningsih, saat mengenang kejadian Senin siang lalu. Menurut Mimi, Ningsih menjadi satu satunya murid yang tak lulus di antara siswa kelas III di sekolahnya. Mungkin karena itu pula Ningsih sangat sulit ditenangkan ketika sedang histeris. Saking terpukulnya, Ningsih malah sempat rebah di tanah, membiarkan pakaiannya kotor. Ia lantas diantar pulang ke rumahnya di Desa Muara Jambi oleh satu rombongan. Para pengantar tersebut terdiri atas lima guru dan tiga siswi teman dekatnya. Selama dalam perahu yang mengantarkan mereka menyeberangi Sungai Batanghari, Ningsih tetap tak henti menangis.
Masih menurut kesaksian Mimi, sekitar pukul 14.30 rombongan tiba di rumah orangtua Ningsih. Para pengantar pun tak langsung pulang. Mereka tetap menemani dan menghibur Ningsih selama sekitar sejam. "Tapi, selepas asar, sekitar pukul empat, dia kirim SMS kepada saya. Ia meminta saya dan kawan kawan supaya datang ke rumahnya nanti malam dan menjelaskan ketidaklulusannya kepada orangtuanya," kata Salmi (18), sahabat Ningsih yang lain. Pesan pendek itu lantas disambungkan kepada Mimi. Keduanya sepakat untuk mendatangi rumah Ningsih pada Senin malam. Namun, ketika mereka datang ke rumah Ningsih sekitar pukul 19.30, sahabat mereka itu telah dilarikan ke rumah sakit. Ternyata Ningsih melakukan upaya bunuh diri. Ia diperkirakan melakukan tindakan meracuni diri sekitar pukul 15.30 atau 16.00. Itu terjadi setelah kakaknya pergi meninggalkan rumah untuk membantu persiapan hajatan di rumah tetangga. Paman korban, Subrata (29), mengatakan, sebelum menelan serbuk fungisida, Ningsih telah mengeluhkan ketidaklulusannya kepada kakaknya, Haris. Sepengetahuannya, Ningsih bercerita bahwa ia khawatir akan mendapat marah dari orangtuanya. Sang kakak pun sempat menenangkannya. Selepas itu, Ningsih terlihat tenang. Ia bahkan sempat mencuci pakaian seragamnya yang kotor, juga mengambil air wudu dan shalat. Sayangnya, ketika sang kakak pulang ke rumah sekitarmaghrib, Ningsih sudah dalam kondisi lemas di dalam kamarnya. Mulut gadis itu pun berbusa. Gadis malang itu lantas dilarikan ke Rumah Sakit Bratanata, Kota Jambi. Ketika mobil yang mengangkutnya mampir di Desa Jambi untuk mengisi bensin, denyut nadi Mingsih masih terasa. Namun, nasib berkata lain, nyawanya tetap saja tak tertolong begitu sampai di rumah sakit sekitar pukul 19.00.
Orangtua wajib memberikan perhatian khusus kepada anaknya yang mempunyai computer dengan fasilitas internet pribadi didalam kamarnya, karena perkembangan teknologi pada dewasa ini banyak hal ditampilkan secara vulgar dalam internet. Hal tersebut disampaikan Pengamat Masalah Perempuan dan Keluarga di Jayapura, Juliana Langowuyo, Minggu, menanggapi perkembangan gaya hidup anak muda sekarang ini yang banyak dipengaruhi budaya barat yang tidak mendidik. Juliana mencontohkan, banyaknya situs dalam internet yang memuat hal yang berbau pornografi dan tindak kekerasan yang dapat berpengaruh negative dalam perkembangan hidup anak kedepan. "Lebih baik lagi kalau ada peraturan yang diberikan orang tua pada anak, jika ingin memakai internet wajib ada orang tua yang menemaninya," saran Juliana. Ia mengemukakan, melihat perkembangan gaya hidup anak muda sekarang ini yang banyak dipengaruhi budaya barat dan tidak mendidik serta jauh dari norma masyarakat dan ajaran agama, maka mutlak dibutuhkan komunikasi berkesinambungan antar orang tua dan anaknya. "Berikan anak kesempatan mengembangkan diri, tapi harus selalu dibimbing juga oleh orang tua," katanya.
Pada usia anak dan remaja, mudah sekali dipengaruhi lingkungan sekitar. Pengaruh itu bisa berasal dari anggota keluarga selain orangtua, teman-teman sekolah, teman bermain maupun masyarakat sekitar melaui berbagai media baik secara langsung maupun tidak langsung. "Anak-anak, termasuk yang sudah memasuki usia remaja merupakan fase pertumbuhan yang cukup kompleks karena pada saat tersebut aspek biologis, psikologis maupun emosional mereka sedang berada dalam puncak perkembangan," katanya. Para orang tua yang memberikan kebebasan kepada anak mengakses internet apalagi yang memberikan fasilitas itu kepada anak penting untuk terlebih dahulu berpikir dengan baik. "Karena internet relatif punya pengaruh besar pada perilaku anak kedepan," katanya. Dengan demikian lanjutnya, dalam perkembangan kini keluarga merupakan tempat awal pembentukan mental dan perilaku anak, dari perilaku buruk dan menyimpang yang pada dewasa ini semakin dipertontonkan secara vulgar. "Perhatian terhadap pergaulan anak ini dilakukan agar mereka tidak terjerumus pada hal-hal yang buruk, seperti seks bebas, konsumsi narkoba, tawuran serta tindakan-tindakan lainnya yang tidak dibenarkan dalam ajaran agama dan norma masyarakat pada umumnya," kata Juliana.(KR-MBK/A033/R009)
Mendengar one night stand sex, jangan salah tafsir. Ini bukanlah melakukan hubungan seks semalam suntuk sambil berdiri. Tetapi, ini adalah kata lain dari casual sex yang berarti bercinta atau bersenggama tanpa komitmen. “Istilah yang marak sekarang ya sex buddy atau mitra seks yang bisa dilakukan kapan dan dengan siapa saja, Prinsipnya have fun, no more! Without love, comitment and married," kata Rani Bytes, pemilik salon hewan dan butik ternama di Jakarta dalam perbincangannya dengan TEMPO Interaktif, beberapa waktu lalu.
Wanita cantik yang single parent dan punya dua anak itu mengatakan fenomena sex buddy sering dikaitkan dengan emansipasi perempuan di bidang sex. Pelakunya para perempuan kota besar yang muda, sukses, mapan, lajang dan sebagian wanita menikah. “Memang semakin ke sini jumlahnya bertambah. Dan perihal ini sering dilontarkan sebagai emansipasi yang nyaring diserukan di kalangan perempuan. Mereka memperjuangkan kesetaraan hak dengan kaum pria, termasuk kebebasan menikmati seks seperti yang dilakukan para pria,” ungkapnya. Namun ia mengutip pernyataan Profesor Anne Campbell dari Durhan University Inggris yang memaparkan fakta bahwa perempuan ternyata memiliki perasaan bersalah setelah melakukan kegiatan sex one-night stand. Masih berdasar kutipan Anne, Rani menambahkan selain para perempuan dihinggapi perasaan bersalah, mereka menyesal telah dimanfaatkan oleh pasangan seksnya. Kondisi jelas sangat berbeda dengan perasaan kaum pria yang memperoleh kepuasan dan kebanggaan tersendiri dalam berpetualang dengan one-night stand sex itu. Hasil penelitian Campbell terhadap 850 wanita seakan menjadi paradox dengan penelitian lain yang menyatakan bahwa baik pria dan wanita mempunyai fantasi seks bebas yang sama, wajar bila kaum Hawa melakukan hal yang dilakukan kaum Adam. Rani juga menyelipkan sebuah data penelitian lain menyebutkan bahwa hanya sebagian kecil wanita yang berusaha mewujudkan fantasinya dengan cara emansipasi bidang seks seperti sex buddy, casual sex atau one night stand sex tadi. “Alasannya, norma sosial yang sedang berlaku tidak mengijinkan kebebasan seks seperti itu.”
Namun pada penelitiannya, Anne menuturkan seputar masalah ini bahwa perbedaan mendasar pria hanya menyukai hubungan jangka pendek dengan berbeda-beda pasangan. Sementara wanita, memang lebih membutuhkan kualitas senggama dibanding kuantitas. Kualitas yang dimaksud termasuk bobot, bebet dan bibit. Jadi, bukan sekadar pintar, tampan, gagah atau seksi. “Saya percaya salah satu alasan perempuan melakukan hal begini pada akhirnya nanti akan berujung merasa ada kesempatan membawa hubungannya ke tahap yang lebih serius,” pungkas Rani. Diapun menggarisbawahi perasaan bersalah, menyesal dan dimanfaatkan yang menggayut di hati para kaum hawa tersebut, seolah-olah memberi verifikasi terhadap ungkapan lama yakni pria mencintai untuk memperoleh seks. “Sementara, wanita memberikan seks untuk mendapatkan cinta. Dan bohong belakang wanita bercinta tanpa ikatan emosional atau dilandasi perasaan,” ujarnya. HADRIANI P
Imej Jogja sebagai pintu gerbang masuknya narkoba, obat-obatan terlarang, dan psikotropika agaknya semakin melekat menyusul tertangkapnya Srie Moertarini yang membawa 2,6 kilogram shabu-shabu (SS) di Bandara Adi Sutjipto, Selasa (13/4). Penangkapan terhadap warga Rt 05/Rw 02 Kelapa Dua Jakarta Barat yang mengaku sebagai kurir itu adalah kali ke dua yang terjadi di wilayah hukum DIJ. Sebelumnya, kasus serupa dengan modus yang juga mirip terjadi pada Jum'at (26/2). Meixiu Zhou alias Sofia, warga Tiongkok ketahuan membawa 9.976 butir pil yang diduga ekstasi senilai Rp 1 miliar. Mereka tercatat menumpang pesawat yang sama Air Asia dengan nomor penerbangan AK 594. Bahkan cara mengelabuhi petugas pemeriksa barang terlarang yang mereka bawa juga sama. Yakni menyembunyikan narkoba di balik dasar koper yang telah dibuat ruang tambahan. Jakarta sama-sama menjadi kota tujuan kedua tersangka. Bedanya, jika Sri datang dari Kuala Lumpur, Malaysia membawa SS berbentuk kristal senilai Rp 5,2 milyar, Meixiu Zhou alias Sofia dari Tiongkok membawa ekstasi. Selain itu, Sri berniat ke Jakarta dengan jalan darat, sedangkan Meixiu Zhou alias Sofia memilih terbang dengan pesawat lain. Namun keduanya sama-sama berhasil digagalkan oleh petugas keamanan Bandara Adi Sutjipto bekerjasama dengan aparat Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Jogja. Fakta tersebut menguatkan dugaan adanya sindikat narkoba yang bergerilya di wilayah Jogja dan sekitarnya. Setidaknya para sindikat memilih Jogja sebagai gerbang masuknya pil setan dan obat terlarang lainnya.
Menurut Penasehat DPD Gerakan Anti Narkotika (Granat) Jogja Titik R Danumihardja alasan yang disampaikan para tersangka soal kota tujuan hanya dalih kepada aparat. Titik mengaku yakin Jogja tetap menjadi sasaran para bandar dari luar negeri. "Jogja itu menjadi target market para pengedar narkoba," ujar Titik yang dihubungi melalui telepon selulernya kemarin (14/3). Menurut Titik, masalah itu sulit dihentikan selama petugas tidak tegas dan 'ikut bermain' dituturkan oleh Titik, dari hasil penelitiannya, penyelidikan dan penyidikan kasus narkoba berlangsung dengan baik. "Tapi ironisnya peredaran narkoba tetap terjadi di lembaga pemasyarakatan. Ada pemakai dan bandar juga," katanya. Soal peredaran narkoba di lembaga pemasyarakatan dibenarkan oleh pakar hukum pidana yang konsentrasi pada kasus narkoba, Eddy O.S Hieriej. Menurut dosen fakultas hukum UGM itu, peredaran narkoba di Jogja memang cukup besar. Warga LP dan mahasiswa menjadi sasaran utama. "Tapi tidak terkspos saja. Sepertinya sangat closse. Padahal terbukti ada bandarnya," tegasnya. Dua pengamat narkoba itu sepakat, pengamanan di bandara sudah cukup ketat, sehingga peredarannya bisa digagalkan. "Tapi sebagus apa keamanannya, bandar narkoba itu lebih pintar," ingat Titik. Sementara Eddy berpendapat, dari semua kasus peredaran narkoba yang terkespos hanya sepersepuluh dari total kasus yang ada. "Seharusnya tak hanya di bandara yang pengamanan diperketat. Termasuk mahasiswa harus diawasi ketat. Sebab mahasiswa menjadi target merket utama para bandar," terangnya. Eddy mengapresiasi usulan Bupati (nonaktif) Sleman Ibnu Subiyanto kepada para pengelola perguruan tinggi agar mengasramakan 10 persen mahasiswa yang ada di kampus masing-masing. "Itu untuk kontrol supaya kasus narkoba bisa ditekan. Sebab banyak mahasiswa yang ter sangkut narkoba biasanya di kos-kosan tanpa induk semang," ungkap Eddy.
Sementara itu Manajer Operasional Bandara Adi Sutjipto Halendra Y.W mengatakan pihaknya akan memperketat pengamanan terkait kasus penumpang membawa narkoba, khususnya penerbangan internasional. Keberhasilan penangkapan oknum penyelundup narkoba, menurut Halendra masih sebatas kerjasama antar personil. Halendra berharap bisa terjalin kerjasama antar lembaga. Diantaranya petugas bandara, bea cukai, BB POM dan kepolisian. Hal itu ditujukan untuk memperpendek waktu pelayanan dan penanganan perkara. Disisi lain, antisipasi penyelundupan barang ilegal tidak semata-mata bisa mengandalkan alat pemindai X-ray. Terutama narkoba. Sebab deteksi terhadap narkoba paling ampuh adalah memanfaatkan anjing pelacak. "Kami sudah punya alat seperti X-Ray, Hand Methal Detector serta exploisiv detector. Tapi kami tak punya anjing yang berpenciuman tajam untuk mengendus narkoba karena mahal," ungkap Halendra. karena itu, upaya antisipasi penyelundupan narkoba di bandara Jogja masih mengandalkan tenaga petugas dengan melihat gerak-gerik para penumpang.
Kasus penyelundupan SS yang ditaksir seharga Rp 5,2 milyar itu kini masih dalam proses penelidikan Polda DIJ. Direktur Narkotika Polda DIJ Kombespol Edy Purwanto mengatakan masih mengembangkan kasus yang menjerat warga Jakarta Barat, Sri Moertarini. "Kami belum bisa berkomentar banyak. Ada upaya pendalaman adanya jaringan narkotika yang melibatkan tersangka," ujarnya kepada wartawan di mapolda setempat. Disisi lain soal kasus Meixiu Zhou alias Sofia, polisi telah melimpahkannya ke kejaksaan. "Tinggal menunggu P-21 dari jaksa," katanya. Edy mengatakan warga asal Tiongkok itu dijerat dengan Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. Penggunaan undang-undang tersebut untuk menjerat tersangka berdasarkan hasil uji laboratorium,sebanyak 9.976 butir pil yang dibawa Sofia, menurut Edy bukan termasuk narkotika. Tapi obat-obatan golongan daftar G. "Obat itu memang mengandung zat penenang," tandasnya.(yog)
Fakta mengejutkan seputar kehidupan anak-anak jalanan (anjal) kemarin dibeber dr Singgih Wahono SpPD. Berdasarkan pemeriksaan kesehatan terhadap 60 anjal yang dipusatkan di Jl Mayjen Panjaitan, hasilnya menyebutkan 40 persen menderita penyakit kelamin dan sisanya penyakit kulit, bahkan TBC. Tak hanya itu, para anjal juga menyalahgunakan obat-obatan. Singgih mengatakan, kesimpulan itu merupakan hasil pemeriksaan medis yang dilakukan bersama dokter-dokter muda dalam aksi sosial bagi anjal yang dilakukan kemarin. Penyakit kulit yang umum diderita anjal adalah kudis dan scabies. Sedangkan penyakit kelamin yang menyerang mereka adalah infeksi karena sipilis dan gonore. Tapi tidak semua anjal terserang PMS (penyakit menular seksual). Beberapa di antaranya hanya terserang batuk dan pilek. "Kenapa ada yang terserang PMS, jelas karena free sex atau seks bebas. Tapi saya tak mau menyebut data karena tidak semua anjal diperiksa kesehatannya. Kami hanya konsen yang ada di sini," ujar dokter spesialis penyakit dalam itu. Kondisi itu terjadi, menurut Singgih, karena para anjal adalah anak-anak terpinggirkan. Kehidupannya tidak ada yang mengontrol dan tidak ada yang mengajari soal etika atau perbuatan baik. Tak hanya itu, dari segi pendidikan juga sangat kurang, mereka tidak bekerja, dan warga kota tidak peduli lagi. "Mereka lepas dari kebudayaan kita. Padahal mereka memiliki hak yang sama," urai Singgih.
Karena kondisi itu, Singgih mengatakan secara pribadi akan terus memantau kesehatan para anjal yang terserang PMS tersebut. Bahkan dalam waktu tiga bulan ini pihaknya akan menggelar pengobatan masal untuk para anjal. "Jika tidak ditangani serius, PMS berpotensi pada HIV/AIDS. Ini berbahaya sekali, apalagi kabarnya sudah ada satu yang terserang HIV," tandasnya. Lebih memprihatinkan lagi, lanjutnya, para anjal tak segan menyalahgunakan obat. Baik dengan cara oral maupun suntik. Obat yang sering disalahgunakan adalah jenis dextromethorfan, tablet obat batuk generik. "Bentuknya mengonsumsi melebihi dosis. Kalau tidak percaya tanyakan sendiri pada mereka," ungkap dia. Beberapa anjal yang duduk di belakang Singgih saat itu langsung menyahut bahwa cara minum dextro dicampur dengan kopi atau air putih. Tapi, dalam jumlah banyak. "Kalau minum itu jadi melayang-layang Pak, seperti masuk dunia kartun," sahut beberapa anjal bersamaan. Lebih lanjut, banyaknya anjal yang terserang penyakit kulit dan kelamin itu karena selama ini mereka hidup bergerombol. Efeknya, paling mudah adalah penularan penyakit kulit. Cara penularan dengan tidur bersama, menggunakan sprei yang sama, pelukan, dan gantian menggunakan baju. "Budaya hidup bersih kurang dijaga. Kalau mau sembuh semua baju dan sprei harus direndam air panas sebelum dicuci," tandasnya. Sementara untuk penyakit seksual menular karena anjal melakukan hubungan seks. "Saya berharap dinkes dan pemerintah daerah lebih peduli. Terutama pada penyebaran HIV/AIDS," tambah Singgih.
Agustinus Tedja G.K. Bawana, koordinator Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) Aku Juga Anak Bangsa yang mendampingi para anjal mengungkapkan, fakta itu sebenarnya sudah lama sekali melekat pada mereka. Hanya untuk berobat para anjal tak memiliki dana. Apalagi mereka tak dicover jamkesmas karena dinilai identitasnya tak jelas. "Ada 500-san anjal di bawah JKJT. Yang di bawa ke sini hanya 60-an. Mereka yang benar-benar telah terinfeksi penyakit kulit dan kelamin," urai Tedja. Jika diprosentase, lanjut Tedja, sekitar 40 persen anjal di bawah pengawasannya terkena penyakit kulit dan kelamin. Paling banyak adalah sipilis, gonore, kudisan, dan herpes. Rata-rata usia anjal yang terserang penyakit itu antara 6 - 18 tahun. Sedang paling tua ada yang berusia 25 tahun. "Satu anak saya ada yang terinfeksi HIV. Tapi meninggal. Sekarang ada dua sedang hamil hasil hubungan bebas. Kami hanya meminta pemerintah lebih peduli karena mereka juga anak bangsa," kata Tedja yang membeber bahwa para anjal itu hidup menggelandang di beberapa titik Kota Malang. (nen/ziz)
Merokok bisa dilakukan dengan sehat, meski masih jadi kontroversi di masyarakat. Untuk merokok dengan sehat, diperlukan pengetahuan, pendidikan, dan sains. Berdasar penelitian lembaga penelitian peluruhan radikal bebas Malang, kandungan nikotin yang ada dalam rokok masih bersifat aman. Hanya, kandungan tanaman tembakau sebagai bahan baku rokok telah terkontaminasi logam berat, salah satunya merkuri. "Kita sudah melakukan dua kali penelitian, bahwa nikotin itu tidak selalu berbahaya, karena kadarnya ternyata aman. Tetapi kenapa itu jadi sorotan dan berbahaya? Karena justru ada kandungan mercuri atau logam berat yang mengikat dalam nikotin," ungkap Saraswati, pembicara dalam penyuluhan di aula At-Taqwa, Jalan Teuku Umar, Bojonegoro. Penyuluhan diselenggarakan Pemprov Jatim bekerja sama dengan laboratorium pengembangan ekonomi pembangunan Unair Surabaya, kemarin (6/4). Menurut dia, nikotin sebenarnya aman, tetapi mercurilah yang mengandung radikal bebas sehingga menimbulkan penyakit. Dengan kondisi alam yang ada, kandungan logam berat itu menyebar di bumi dan kian aktif. Sebab, lapisan ozon, pelindung permukaan bumi, semakin menipis. Itu yang menyebabkan merkuri semakin aktif. Dia menjelaskan, merkuri bisa berasal dari limbah perusahaan, yang dibuang melalui cerobong asap, melalui air menuju laut dan kemudian menguap. Kandungan merkuri yang terkena matahari yang dulu tidak bisa menembus dengan panjang kurang dari 290 nano meter itu, akan semakin aktif. Dan itu sebagai logam berat yang paling berbahaya. "Solusinya, bisa pakai nano partikel, yang mengikat radikal bebas. Sebab, saat orang menyalakan rokok, suhu di dalam rokok sekitar 600 derajat celsius, dengan nano partikel dapat mengikat merkuri," jelas dosen Universitas Merdeka Malang ini. Hadir juga dalam penyuluhan, Bupati Suyoto dan M. Fauzan, ketua komisi C DPRD Bojonegoro.
JOGJA- Ketua Komnas Perlindungan Anak (KPA) Seto Mulyadi ikut-ikutan dibuat sibuk akibat munculnya video Anak Kecil Berbicara Kotor Asal Surabaya. Dalam beberapa hari ini, dia sering menerima pertanyaan dari para wartawan soal kasus yang memalukan dan mencoreng dunia anak-anak itu. Dia pun juga harus menjelaskan komentarnya saat berhadapan dengan khalayak, terutama kalangan orang tua dan pendidik. Itu pula yang dilakukan pria berkacamata yang akrab disapa Kak Seto ini di Pendopo Tamansiswa kemarin. Dihadapan sekitar 400 orang tua dan guru, dia menekakan lagi tentang keprihatinannya terhadap kasus itu. "Kasus itu sungguh memrihatinkan. Dan itu bukan tidak mungkin terjadi juga kepada anak-anak yang lain," terangnya saat ditemui di ruang transit. Dan itu harus secepatnya diselesaikan, dalam rangka memberikan perlindungan bagi anak-anak dan masa depannya. Dan itu dengan melibatkan semua pihak. Dia menilai, faktor lingkungan menjadi kunci utama dalam masalah ini. Dia pun menilai, kasus yang terjadi di Surabaya itu sangat dipengaruhi lingkungan sekitarnya dan bukan semata-mata kesalahan keluarga dan orang tuanya. Melainkan lingkungan yang tidak sehat bagi perkembangan anak dan tidak adanya kepedulian tentang masa depan anak. Karena itulah dia menilai pentingnya kota layak anak. Sebuah kota dengan lingkungan yang layak dihuni dan menjadi sebuah tempat tumbuh dan berkembangnya anak untuk menatap masa depannya. Dia pun berkomitmen untuk ikut mengampanyekan adanya kota layak anak ini di setiap kota yang dikunjunginya, termasuk di Kota Jogja. Dalam kasus di Surabaya itu, dia menilai SW (inisial anak itu) sudah mengalami tiga kekerasan sekaligus. Yakni, kekerasan psikologis, karena sudah diajari sesuatu yang tidak sesuai umurnya. SW juga mengalami kekerasan dalam hal kesehatannya, karena sudah diajari merokok. Yang paling parah tentu saja yang bersangkutan telah mengalami kekerasan yang disebut eksploitasi anak. Guna menyelesaikan kasus ini, dia secepatnya akan melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak di Surabaya. Itu antara lain dengan dokter, psikolog anak dan lingkungan sekitarnya. SW sebaiknya diperiksa baik secara psikis dan fisik. SW harus ditangani oleh psikolog anak untuk memperbaiki tingkah lakunya. "Selain itu, sebaiknya juga dibawa ke dokter untuk diperiksa kesehatannya," tegasnya. Sumber: Radar Yogya
JAKARTA - Indonesia belum beranjak sebagai salah satu negara dengan laju epidemi HIV/AIDS tertinggi di dunia. Organisasi PBB untuk AIDS (UNAIDS) menyebutkan, selama dua tahun ini posisi Indonesia tidak berubah, yakni masih menjadi negara epidemi AIDS tercepat di Asia. Hingga akhir 2009, ada 19.973 kasus AIDS di 32 provinsi di Indonesia. Sementara itu, yang tertular HIV/AIDS 298 ribu orang. "Beberapa tahun terakhir, penularan HIV/AIDS di Indonesia memang berkembang cepat. Salah satu pemicunya adalah perilaku seksual," ujar UNAIDS Country Coordinator Nancy Fee ketika ditemui di Jakarta kemarin (1/4). Nancy memaparkan, Indonesia juga masuk dalam masa transisi pola penularan HIV/AIDS, yang semula lewat penggunaan jarum suntik menjadi melalui hubungan seksual. Dalam data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) 2009 disebutkan, secara kumulatif kasus AIDS tertinggi ditularkan melalui hubungan heteroseksual (50,3 persen), diikuti penggunaan jarum suntik (40,2 persen), lalu perilaku homoseksual (3,3 persen). Nancy mengatakan, ancaman virus mematikan tersebut belum beranjak dari Indonesia. Karena itu, pemerintah harus bertindak cepat untuk melawan penyebaran penyakit tersebut. Awalnya, HIV menular di kalangan pengguna narkoba suntik (penasun). Namun, dalam 15 tahun terakhir mayoritas penasun bukan lagi orang yang terinfeksi HIV. "Untuk epidemi di Indonesia, infeksi HIV lebih dipicu perilaku seksual," sambung aktivis HIV/AIDS Irwanto dari Universitas Atmajaya.Perilaku tersebut tumbuh dengan cepat dan menyebar pada jaringan kerja seks. Termasuk, pasangan jangka panjang, laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (gay), dan pekerja seks. Pola epidemi di Asia, antara 2002-2006 jumlah orang yang terinfeksi HIV/AIDS naik dua kali lipat. "Sebesar 90 persen di antaranya adalah infeksi terhadap perempuan yang disebabkan perilaku seksual pasangan," jelas Irwan. Laporan Commission on AIDS in Asia 2008 memperkirakan, hingga 10 juta perempuan Asia mengomersialkan seks. Sementara itu, setidaknya 75 juta laki-laki membeli seks secara reguler dan gay diperkirakan sebanyak 16 juta orang. Penelitian tersebut juga menunjukkan, antara 10-60 persen laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki. Selain itu, sekitar 50 juta perempuan berisiko tertulari HIV dari pasangan intimnya. Para perempuan berisiko tersebut sudah menikah atau merupakan pasangan tetap laki-laki yang terlibat perilaku seksual yang berisiko lebih tinggi. Berdasar data Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2008, dinamika penularan HIV dalam hubungan intim pasangan di Asia melalui tiga sumber utama, meliputi pekerja seks (10 juta orang), penasun (4 juta orang), serta laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki dan waria (16 juta orang). Dari tiga sumber utama tersebut, jelas Irwan, laki-laki yang secara reguler menggunakan pekerja seks berjumlah 75 juta orang. Ditambah laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki serta penularan melalui penasun, diperkirakan 50 juta perempuan berisiko tertular HIV. Irwan menyebutkan, perempuan menjadi rentan karena terlupakan untuk diperhatikan. Padahal, perempuan juga berhubungan dengan orang yang lebih dahulu terinfeksi karena penggunaan narkoba suntik, homoseksual, dan pelanggan seks.
Banyak perempuan yang menikah atau berada dalam hubungan jangka panjang memiliki tingkat resiko terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) disebabkan oleh perilaku beresiko pasangan mereka atau tertular dari pasangan intim. "Semakin banyak perempuan terinfeksi HIV dan sebagian besar dari mereka tidak memiliki perilaku beresiko," kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar di Jakarta, Rabu pada acara Peluncuran Laporan Penularan HIV Pada Pasangan Intim di Asia. Berdasarkan laporan terbaru mengenai penularan HIV pada hubungan pasangan intim di Asia menekankan pada peningkatan jumlah perempuan yang terinveksi HIV melalui suami atau pasangan intim mereka. Diperkirakan sekitar lebih dari 90 persen dari 1,7 juta perempuan hidup dengan HIV di Asia terinfeksi dari suami atau pasangan mereka pada hubungan jangka panjang. Pada tahun 2008, 35 persen dari seluruh orang dewasa terinfeksi HIV di Asia adalah perempuan, naik 17 persen pada tahun 1990. Bahkan laporan regional mengenai "Penularan HIV pada hubungan pasangan intim di Asia" mengkaji isu perempuan yang menikah atau berada dalam hubungan jangka panjang memiliki tingkat resiko terinfeksi HIV disebabkan oleh perilaku beresiko pasangan mereka. Bukti dari hampir semua negara di Asia menunjukkan bahwa perempuan yang tertular HIV bukan dari perilaku mereka sendiri, akan tetapi karena perilaku seksual tidak aman yang dilakukan pasangan di mana pasangan mereka adalah laki-laki yang berhubungan dengan laki-laki lain, pengguna narkoba suntik atau klien pekerja seks komersial. Karenanya, menteri menilai pihaknya perlu memperkuat program-program hak asasi reproduksi perempuan dan untuk meningkatkan kekuatan menawar wanita dalam menolak hubungan seksual beresiko tinggi. Menanggapi hal itu, Perwakilan dari United Nations Population Fund (UNFPA) Zahidul Huque mengatakan bahwa laporan tersebut ditujukan untuk memperbaiki strategi advokasi dan pencegahan. Sementara Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, Nafsiah Mboi mengatakan bahwa epidemi HIV di Indonesia pada saat ini telah mengarah pada penularan mengenai aktivitas sosial dan semakin banyak perempuan terinfeksi HIV.