Tuesday, April 20, 2010

Perempuan Menyesal Lakukan One Night Stand Sex

Mendengar one night stand sex, jangan salah tafsir. Ini bukanlah melakukan hubungan seks semalam suntuk sambil berdiri. Tetapi, ini adalah kata lain dari casual sex yang berarti bercinta atau bersenggama tanpa komitmen. “Istilah yang marak sekarang ya sex buddy atau mitra seks yang bisa dilakukan kapan dan dengan siapa saja, Prinsipnya have fun, no more! Without love, comitment and married," kata Rani Bytes, pemilik salon hewan dan butik ternama di Jakarta dalam perbincangannya dengan TEMPO Interaktif, beberapa waktu lalu.

Wanita cantik yang single parent dan punya dua anak itu mengatakan fenomena sex buddy sering dikaitkan dengan emansipasi perempuan di bidang sex. Pelakunya para perempuan kota besar yang muda, sukses, mapan, lajang dan sebagian wanita menikah. “Memang semakin ke sini jumlahnya bertambah. Dan perihal ini sering dilontarkan sebagai emansipasi yang nyaring diserukan di kalangan perempuan. Mereka memperjuangkan kesetaraan hak dengan kaum pria, termasuk kebebasan menikmati seks seperti yang dilakukan para pria,” ungkapnya. Namun ia mengutip pernyataan Profesor Anne Campbell dari Durhan University Inggris yang memaparkan fakta bahwa perempuan ternyata memiliki perasaan bersalah setelah melakukan kegiatan sex one-night stand. Masih berdasar kutipan Anne, Rani menambahkan selain para perempuan dihinggapi perasaan bersalah, mereka menyesal telah dimanfaatkan oleh pasangan seksnya. Kondisi jelas sangat berbeda dengan perasaan kaum pria yang memperoleh kepuasan dan kebanggaan tersendiri dalam berpetualang dengan one-night stand sex itu. Hasil penelitian Campbell terhadap 850 wanita seakan menjadi paradox dengan penelitian lain yang menyatakan bahwa baik pria dan wanita mempunyai fantasi seks bebas yang sama, wajar bila kaum Hawa melakukan hal yang dilakukan kaum Adam. Rani juga menyelipkan sebuah data penelitian lain menyebutkan bahwa hanya sebagian kecil wanita yang berusaha mewujudkan fantasinya dengan cara emansipasi bidang seks seperti sex buddy, casual sex atau one night stand sex tadi. “Alasannya, norma sosial yang sedang berlaku tidak mengijinkan kebebasan seks seperti itu.”

Namun pada penelitiannya, Anne menuturkan seputar masalah ini bahwa perbedaan mendasar pria hanya menyukai hubungan jangka pendek dengan berbeda-beda pasangan. Sementara wanita, memang lebih membutuhkan kualitas senggama dibanding kuantitas. Kualitas yang dimaksud termasuk bobot, bebet dan bibit. Jadi, bukan sekadar pintar, tampan, gagah atau seksi. “Saya percaya salah satu alasan perempuan melakukan hal begini pada akhirnya nanti akan berujung merasa ada kesempatan membawa hubungannya ke tahap yang lebih serius,” pungkas Rani. Diapun menggarisbawahi perasaan bersalah, menyesal dan dimanfaatkan yang menggayut di hati para kaum hawa tersebut, seolah-olah memberi verifikasi terhadap ungkapan lama yakni pria mencintai untuk memperoleh seks. “Sementara, wanita memberikan seks untuk mendapatkan cinta. Dan bohong belakang wanita bercinta tanpa ikatan emosional atau dilandasi perasaan,” ujarnya. HADRIANI P

Sumber: Tempointeraktif.com

0 komentar:

Post a Comment