Merokok bisa dilakukan dengan sehat, meski masih jadi kontroversi di masyarakat. Untuk merokok dengan sehat, diperlukan pengetahuan, pendidikan, dan sains. Berdasar penelitian lembaga penelitian peluruhan radikal bebas Malang, kandungan nikotin yang ada dalam rokok masih bersifat aman. Hanya, kandungan tanaman tembakau sebagai bahan baku rokok telah terkontaminasi logam berat, salah satunya merkuri. "Kita sudah melakukan dua kali penelitian, bahwa nikotin itu tidak selalu berbahaya, karena kadarnya ternyata aman. Tetapi kenapa itu jadi sorotan dan berbahaya? Karena justru ada kandungan mercuri atau logam berat yang mengikat dalam nikotin," ungkap Saraswati, pembicara dalam penyuluhan di aula At-Taqwa, Jalan Teuku Umar, Bojonegoro. Penyuluhan diselenggarakan Pemprov Jatim bekerja sama dengan laboratorium pengembangan ekonomi pembangunan Unair Surabaya, kemarin (6/4). Menurut dia, nikotin sebenarnya aman, tetapi mercurilah yang mengandung radikal bebas sehingga menimbulkan penyakit. Dengan kondisi alam yang ada, kandungan logam berat itu menyebar di bumi dan kian aktif. Sebab, lapisan ozon, pelindung permukaan bumi, semakin menipis. Itu yang menyebabkan merkuri semakin aktif. Dia menjelaskan, merkuri bisa berasal dari limbah perusahaan, yang dibuang melalui cerobong asap, melalui air menuju laut dan kemudian menguap. Kandungan merkuri yang terkena matahari yang dulu tidak bisa menembus dengan panjang kurang dari 290 nano meter itu, akan semakin aktif. Dan itu sebagai logam berat yang paling berbahaya. "Solusinya, bisa pakai nano partikel, yang mengikat radikal bebas. Sebab, saat orang menyalakan rokok, suhu di dalam rokok sekitar 600 derajat celsius, dengan nano partikel dapat mengikat merkuri," jelas dosen Universitas Merdeka Malang ini. Hadir juga dalam penyuluhan, Bupati Suyoto dan M. Fauzan, ketua komisi C DPRD Bojonegoro.
0 komentar:
Post a Comment