Friday, December 17, 2010

Pisau Cukur Berpotensi Menularkan HIV/AIDS

Gorontalo (ANTARA News) - Penggunaan pisau cukur secara bergantian seperti yang lazim digunakan di tempat-tempat pemangkasan rambut, berpotensi menularkan penyakit HIV/AIDS. Ayundrawan Mohune, ketua "Huyula Suport", sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berfokus pada penanggulangan dan mitra penderita HIV/AIDS, mengungkapkan hal ini di Gorontalo, Jumat. Dia menjelaskan, penularan bisa terjadi dari darah penderita HIV/AIDS yang terdapat dalam pisau cukur itu, yang kemudian dalam rentang waktu dekat digunakan pada orang lain. "Jika pisau cukur yang membawa darah penderita itu, kembali melukai kulit kepala orang lain, maka disitulah rentan terjadi penularan," jelasnya. Jika demikian, lanjutnya, maka peristiwa "kecelakaan kecil" berupa luka tanpa sengaja akibat tersayat pisau cukur itu, dapat membawa dampak yang besar bagi seseorang. "Kita sendiri, bahkan bisa jadi tidak pernah tahu, bahwa sedang telah mengidap HIV/AIDS, lalu menularkannya kepada orang lain, dengan cara yang sebenarnya sepele," kata dia. Untuk menanggulangi hal tersebut, dirinya menyarankan, jika hendak memangkas rambut, hendaknya membawa atau menyediakan sendiri peralatan pisau cukur. Penularan dengan cara kontak darah, yang terjadi melalui luka terbuka, menurutnya selama ini belum banyak diketahui oleh masyarakat awam. (SHS/K004)

Sumber: Antara, Jumat, 17 Desember 2010

Wednesday, December 1, 2010

Pekanbaru Penyumbang Terbesar Penderita HIV/AIDS di Riau

Pekanbaru (ANTARA News) - Dinas Kesehatan (Diskes) mercatat kota

Pekanbaru merupakan penyumbang terbesar penderita HIV/AIDS di Riau tahun 2010, bahkan mencapai 460 kasus penderita. "Kasus HIV/AIDS di Pekanbaru mengalami tren yang semakin meningkat mulai 2007-2010," kata Kepala Diskes Dahril Darwis menjawab pertanyaan wartawan di Pekanbaru, Rabu. Ia menjelaskan, peningkatakan penderita kasus itu justru semakin berkembang atau meningkat pesat pada 2010 sehingga tercatat peringkat pertama jumlah penderita HIV/AIDSnya. Kasus HIV/AIDS tahun 2007 lalu tercatat hanya 87 orang, namun pada 2008 naik tajam menjadi 204. Kemudian pada 2009 kasusnya naik lagi menjadi 361, dan puncaknya tahun 2010 kasus kembali naik menjadi 460 kasus. "Dari 460 kasus tahun 2010 ini terdapat 164 yang menderita HIV, dan 296 yang menderita AIDS," jelasnya. Sementara jika dibandingkan dengan jumlah kasus di Provinsi Riau secara keseluruhan HIV sebanyak 361 kasus dan AIDS 492 orang. "Jadi, Pekanbaru merupakan penyumbang tertinggi kasus HIV/AIDS dan ini berada di peringkat pertama di Riau," kata Dahril.

Untuk mengantisipasi dan menanggulangi kasus ini Dahril mengaku akan berkoordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker), Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) dan Dinas Pendidikan (Disdik) untuk menyampaikan penyuluhan atau pencegahan agar tidak tertularHIV/AIDS. "Karena sampai saat ini belum ada obat untuk HIV/AIDS. Satu-satunya cara yang kami lakukan adalah pencegahan dan sosialisasi agar HIV/AIDS tidak menular," kata Dahril. Wali Kota Pekanbaru Herman Abdullah dalam aksi simpati terkait peringatan Hari AIDS yang jatuh pada 1 Desember mengingatkan seluruh masyarakat akan bahaya HIV/AIDS dan harus menghindari seks bebas. "Bagi yang sudah berkeluarga agar setia pada pasangannya. Tidak melakukan seks bebas. Penyakit ini sangat berbahaya, karena penularannya sama seperti Narkoba," kata Herman. Selain itu kepada berbagai pihak juga diingatkan Herman selalu mewaspadai penularan penyakit HIV/AIDS seperti pihak rumah sakit agar menggunakan jarum suntik yang baru pada pasien baru. "Penggunaan jarum agar tidak berulang-ulang, karena bisa menular," sarannya. Aksi turun ke jalan yang dilakukan Pemko Pekanbaru merupakan aski simpati dalam rangka memperingati Hari AIDS yang jatuh pada tanggal 1 Desember. Dalam aksi itu, Herman Abdullah dan Erizal Muluk langsung membagi-bagikan stiker dan berbagai media tempel lainnya kepada para pengguna jalan khususnya yang melintas jalan Sudirman depan kantor wali kota atau bundaran air mancur. (ANT-234/K004)

Sumber: Antara, Kamis, 2 Desember 2010

HIV/AIDS Masuk Kurikulum Sekolah Papua

Jayapura (ANTARA News) - Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Provinsi Papua, James Modouw, mengatakan mulai tahun 2011 HIV/AIDS akan masuk dalam kurikulum sekolah di wilayah tersebut. "HIV/AIDS pada 2011 akan masuk dalam kurikulum sekolah di Papua," katanya. Moduow yang juga ketua panitia perayaan HAS 2010 Provinsi Papua mengatakan, pihaknya melakukan kebijakan tersebut untuk menekan laju penyebaram HIV di Papua yang cukup tinggi dibanding provinsi lain di Indonesia. "Kami telah mengambil kebijakan bahwa kompetensi HIV/AIDS akan diikutsertakan dalam proses pembelajaran di sekolah-sekolah baik dari tingkat dasar hingga tingkat atas," katanya. Empat daerah yang telah mengimplementasikan kurikulum baru itu di sekolah-sekolah yakni Biak, Timika, Jayawijaya dan Jayapura. Implementasi tersebut ada tiga strategi yaitu, berupa muatan lokal, integrasi pada mata pelajaran yang relevan dan pengembangan diri. "Ketiga strategi ini akan dipilih oleh sekolah-sekolah sesuai dengan KTSP yang barlaku," katanya. Untuk mereaslisasikan hal tersebut, Modouw juga mengatakan, pihaknya bersama Kementerian Pendidikan Nasional, Biro Hukum Setda Provinsi Papua, dan perwakilan UNICEF Jayapura telah menyusun Rancangan Peraturan Gubernur Provinsi Papua tentang Pengarustamaan HIV/AIDS melalui sektor pendidikan. "Dalam Pergub ini nantinya akan dijelaskan kurikulum, buku panduan umum, silabus serta petunjuk teknis lainnya, sehingga diharapkan bapak Gubernur segera mengesahkannya," katanya. Modouw juga mengungkapkan, menurut Kepala Pusat Kurikulum Balitbang Kementerian Pendidikan Nasional bahwa dari 33 Provinsi di Indonesia baru Provinsi Papua yang telah mengembangkan kurikulum HIV/AIDS. "Papua yang pertama masukan HIV/AIDS dalam kurikulum sekolah, dan dengan itu dinas kami diundang panitia HAS tingkat nasional 2010 untuk mengisi stand pendidikan pencegahan HIV/AIDS di Plaza Kemendiknas Jakarta," ungkapnya.(ANT185/A038)

Sumber: antara, Kamis, 2 Desember 2010

64 Penderita HIV/AIDS Sambas Meninggal Dunia

Sambas (ANTARA News) - Sebanyak 64 dari 171 penderita HIV/AIDS di Kabupaten Sambas meninggal dunia, kata Bupati Sambas, Burhanuddin A Rasyid, Rabu. Ia menegaskan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Sambas sejak tahun 2000 hingga September 2010 terdapat 171 orang yakni 64 orang meninggal dunia dan 107 orang masih hidup dengan virus HIV/AIDS di tubuh. "Jumlah itu dengan status AIDS sebesar 70 kasus dan status HIV sebesar 101 kasus. Itu merupakan ancaman nyata bagi peningkatan sumber daya manusia di Kabupaten Sambas," katanya. Hal ini bagikan fenomena "gunung es" yang diharapkan dapat sedikit demi sedikit terkuak hingga nantinya upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS dapat lebih fokus di titik-titik rawan penyebarannya. "Itu kasus yang terdeteksi dan ketahuan karena diperiksa oleh tim medis kita, sedang yang tidak diperiksa mungkin bisa lebih banyak lagi," katanya. Oleh karena itu, Bupati berharap pelajar agar berhati-hati dalam pergaulan, agar jangan sampai terlibat kasus narkoba dan pergaulan bebas. Pemerintah beserta seluruh elemen masyarakat bersama-sama bertanggung jawab menanggulangi penyebaran virus mematikan itu, baik melalui kampanye maupun sarasehan dan dialog. "Kami meminta seluruh pihak memberikan informasi yang benar dan bertanggung jawab melalui jalur pendidikan formal dan informal dalam masyarakat," katanta. Peringatan HIV/AIDS yang jatuh setiap tanggal 1 Desember diisi dengan berbagai kegiatan, di antaranya kampanye penyebaran media berupa leaflet, kalender dan komik tentang HIV dan AIDS di beberapa wilayah. Informasi media tentang HIV/AIDS itu antara lain tersebar di wilayah kota Sambas, Tebas, Jawai, Jawai Selatan, Teluk Keramat, Sebawi dan Pemangkat. Selain itu ada pemutaran iklan HIV dan AIDS melalui radio dan pemasangan spanduk di berbagai titik. (ANT-169/K004)

Sumber: Antara, Rabu, 1 Desember 2010

Angka HIV/AIDS di Papua Capai 6300 Kasus

Jayapura (ANTARA News) - Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Papua, Constant Karma, mengatakan hingga bulan September 2010 terdapat 6.300 lebih kasus HIV/AIDS di Tanah Papua. "Total 6.300 kasus dan ini merupakan hasil yang dihimpun dari kabupaten/kota yang ada di Papua hingga September 2010," katanya di Papua, Rabu. Saat ditemui pada memperingati Hari AIDS Sedunia 2010 tingkat Provinsi Papua bersama ribuan pelajar di Jayapura, Rabu malam dia mengatakan, data itu termasuk yang meninggal karena HIV/AIDS. Jika kasus ini terus meningkat karena masih ada masyarakat yang belum sadar memeriksakan diri ke pusat pelayanan kesehatan terdekat, termasuk masih ada yang berhubungan seks bebas. "KPA bersama dinas terkait selalu memberi informasi dan membantu, sehingga ada kesadaran masyarakat untuk mengunjungi tempat Voluntary Counseling and Testing (VCT) adalah tes HIV yang dilakukan secara sukarela," tuturnya. Terkait kegiatan yang selalu dirayakan juga oleh negara-negara lain, kata dia, bahwa sesuai amanat Menteri Pendidikan Nasional Mohamad Nuh, mengingatkan generasi muda, pelajar dan mahasiswa untuk menjauhkan diri dari perilaku hidup negatif dan menghindari penggunaan narkoba atau psikotropika. Ia berharap semua komponen masyarakat dan lembaga pemerintah ikut peduli terhadap masalah ini, dengan tidak bosan-bosan memberi informasi yang benar tentang bahaya HIV/AIDS bagi rakyat tanah Papua. "Angka ini sewaktu-waktu bisa bertambah dan berkurang. Jadi mari kita semua melawan menguranginya di tanah Papua ini, termasuk kepada siapa saja untuk hidup setia terhadap pasangan," pesannya. Tema yang diangkat dalam acara ini yakni "Peningkatan Hak Asasi dan Akses Pendidikan untuk semua, guna menekan laju epidemi HIV di Indonesia menuju tercapai tujuan pembangunan milenium." Acara yang dieriahkan dengan tarian ini mendapat sambutan meriah dari pelajar SMP, SMU serta masyarakat pada Hari AIDS Sedunia di Papua Trade Center (PTC) Entrop, Kota Jayapura, Papua. (ANT-186/K004)

Sumber: Antara, Rabu, 1 Desember 2010

Riau Urutan 10 dalam Jumlah Penderita HIV/AIDS

Pekanbaru (ANTARA News) - Jumlah penderita HIV/AIDS di Provinsi Riau hingga Oktober 2010 mencapai 853 orang dan membuat daerah itu menempati urutan ke-10 dalam daftar daerah dengan jumlah penderita HIV/AIDS terbesar di Indonesia. "Jumlah itu terdiri atas penderita HIV sebanyak 361 orang dan AIDS sejumlah 492 orang. Mayoritas penderita HIV/AIDS itu berada pada usia produktif yakni 25-29 tahun," kata Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Riau, Mambang Mit, di Pekanbaru, Rabu. Ia mengungkapkan, persentase penderita HIV/AIDS yakni 55 persen laki-laki dan 45 persen sisanya adalah perempuan, sementara jumlah penderita paling banyak terdapat di Kota Pekanbaru yang mencapai 453 orang. Ia menjelaskan, penyebab penularan HIV/AIDS antara lain perilaku seks bebas atau berganti-ganti pasangan, pengunaan jarum suntik bersama terutama oleh pecantu narkotika,, dan transfusi darah. Mambang menghimbau agar seluruh komponen masyarakat Riau untuk bersama-sama memberantas penyebaran virus HIV/AIDS ini sehingga penderita penyakit mematikan ini di Bumi Lancang Kuning dapat ditekan. "Saya bangga dengan generasi muda Riau, yang pada hari ini turut mempelopori kegiatan simpatik dalam memperingati hari AIDS sedunia ini. Mudah-mudahan, semakin hari jumlah penderita HIV/AIDS di Riau semakin menurun," harapnya. Dalam aksi tersebut, Mambang bersama ratusan mahasiswa, LSM dan sejumlah perwakilan perusahaan, membagikan bunga kepada masyarakat yang melintas di lokasi aksi. Kegiatan simpatik ini, juga menampilkan teaterikal mahasiswa yang menggambarkan kepedihan seorang penderita HIV/AIDS.(KR-IND/B013/S026)

Sumber: Antara, Rabu, 1 Desember 2010

Kehamilan Direncanakan Cegah Penularan HIV/AIDS ke Bayi

Padang (ANTARA News) - Orang tua penderita infeksi virus perapuh kekebalan tubuh dan sindroma merapuhnya kekebalan tubuh (HIV/AIDS) dapat mencegah penularan penyakit mematikan itu kepada bayinya dengan cara melakukan perencanaan kehamilan. "Perencanaan kehamilan adalah salah satu cara yang paling efektif bagi kedua orang tua yang positif pengidap HIV-AIDS untuk melakukan pencegahan penularan penyakit tersebut pada buah hatinya," kata Manajer Kasus HIV-AIDS Rumah Sakit (RS) M. Djamil Padang, Sumatera Barat, Dr.Emizar, Rabu. Emizar mengemukakan, pengaturan kehamilan oleh orang tua pengidap HIV-AIDS tersebut 90 persen penularan terhadap bayi dapat dicegah. Kehamilan yang baik bagi penderita yang positif mengidap HIV/AIDS adalah saat penderita ada pada masa optimum manakala perkembangan virus HIV di dalam darah ada pada masa penyebaran yang sangat lemah. "Pada masa tersebut dianjurkan pada pengidap HIV-AIDS untuk memulai kehamilan, dengan berkonsultasasi ke dokter," katanya. Jika kehamilan terjadi pada masa optimum tersebut dibandingkan dengan kehamilan yang tidak direncanakan,menurut dia, maka persentase besaran kemungkinan anak yang dilahirkan oleh orang tua positif HIV/AIDS adalah 1 : 10. "Setelah mengatur kehamilan tersebut, untuk kelahiranya anak penderita juga harus dilakukan dengan operasi cesar, untuk menghindari kemungkinan penularan saat melahirkan," kata Emizar. Perbandingan kemungkinan penyebaran HIV/AIDS pada bayi yang dilahirkan dengan operasi cesar dengan melahirkan secara normal pada orang tua penderita HIV adalah 10 : 60 persen. Sumatera Barat, menurut dia, telah membuktikan efektifnya pencegahan penularan HIV/AIDS dari orang tua yang positif terhadap buah hati mereka. Kasus yang membuktikan teori tersebut berhasil adalah dengan adanya empat bayi dilahirkan dengan negatif virus HIV/AIDS dari empat pasangan yang kedua orang tuanya positif menderita HIV/AIDS. Data ini dari persalinan pasangan-pasangan suami istri yang positif HIV/AIDS di RS M. Djamil Padang sejak 2005 hingga November 2010. Sumbar saat ini mencatat ada sebanyak 15 orang anak dibawah usia 14 tahun yang tertular HIV/AIDS, yang delapan diantaranya masih dalam pengobatan, dan satu orang meninggal dunia.(T.ANT-205/P003)

Sumber: Antara, Rabu, 1 Desember 2010

HIV/AIDS; Tinggi, Ibu Rumah Tangga Pengidap

Semarang, Kompas - Jumlah pengidap HIV/AIDS di Jawa Tengah sejak 1993 hingga akhir September 2010 mencapai 3.195 orang. Dari jumlah tersebut, kelompok pengidap terbesar adalah golongan wiraswasta, mencapai 295 orang, diikuti ibu rumah tangga sebanyak 231 orang. Data dari Komisi Penanggulangan AIDS Jateng, Senin (29/11), jumlah pengidap terbanyak berada pada usia 25-29 tahun. Persentase pengidap perempuan mencapai 38,51 persen. Sejak 1993 hingga akhir September 2010 juga terdapat 434 pengidap AIDS yang meninggal dunia. Di Kota Semarang, sejak 1995 hingga Oktober 2010, jumlah pengidap HIV sebanyak 1.222 orang, sedangkan pengidap AIDS dari tahun 1998 hingga Oktober 2010 sebanyak 145 orang. Menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit, Dinas Kesehatan Kota Semarang, Widoyono, golongan terbanyak pengidap HIV/AIDS di Semarang adalah pelanggan perempuan pekerja seks. Golongan terbanyak lainnya adalah perempuan pekerja seks, pengguna napza suntik, dan waria.

Di bawah estimasi

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Jateng Ngestiono mengatakan, temuan jumlah pengidap HIV/AIDS di Jateng tersebut mencapai sekitar 29,5 persen dari estimasi. Estimasi jumlah pengidap HIV/AIDS di Jateng hingga tahun 2009 sekitar 10.815 orang. Hal itu, menurut Ngestiono, diperkirakan karena masyarakat berisiko tinggi takut memeriksanakan diri ke klinik Voluntary Counceling and Testing (VCT). Ketakutan itu muncul karena masih ada stigma dari masyarakat yang cenderung mengucilkan pengidap HIV/AIDS. Oleh karena itu, perlu upaya sosialisasi dan pendidikan kepada masyarakat mengenai peyakit HIV/AIDS. Masyarakat berisiko tinggi harus didampingi agar bersedia memeriksakan diri ke klinik VCT. Dengan deteksi dini, diharapkan bisa mengurangi penyebaran HIV ke orang lain. Ia menambahkan, fenomena HIV/AIDS merupakan fenomena gunung es. Biasanya permukaan gunung es yang terlihat hanya sekitar 10 persen. Oleh karena itu, pencapaian sebesar 29,5 persen tersebut cukup menggembirakan karena mengungkap lebih dari yang tampak di permukaan. Dari temuan tersebut juga terungkap, jumlah pengidap HIV/AIDS balita sebanyak 46 anak, sedangkan usia 5-9 tahun sebanyak 12 anak. ”Memprihatinkan karena ada calon generasi penerus bangsa,” katanya. Salah satu upaya untuk mencegah HIV/AID adalah dengan mengampanyekan prinsip A, B, C, D, dan E. Pinsip ini mulai dari abstinensia (puasa seks bagi yang belum menikah) hingga education (ajari orang di sekitar kita tentang HIV yang benar).

Sumber: kompas, Selasa, 30 November 2010

Perlu Sinergi untuk Tangani HIV/AIDS

Surabaya, Kompas - Jumlah ibu rumah tangga pengidap HIV/AIDS semakin signifikan. Sampai tahun 2010, ibu rumah tangga di Jawa Timur yang terinfeksi HIV/AIDS mencapai 416 orang. Berdasarkan profesi, ibu rumah tangga menempati urutan ketiga setelah wiraswasta (539) dan pasien dengan pekerjaan tidak diketahui (435). Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur Dodo Anondo, seusai peringatan Hari AIDS di RSU Dr Soetomo Surabaya, Rabu (1/12), mengatakan, meski lugu, ibu rumah tangga tidak lepas dari risiko penularan sebab sulit mengetahui kemungkinan suaminya menerapkan seks bebas. Saat ini Pemerintah Provinsi Jatim menyosialisasikan masalah HIV/AIDS kepada ibu rumah tangga. Adapun penggunaan kondom pada pelanggan lokalisasi malah dilakukan lembaga swadaya masyarakat. Menurut Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf, perlu sinergi berbagai kalangan untuk menanggulangi HIV/AIDS. Penanggulangan semestinya dilakukan tidak hanya pada tahapan preventif dan kuratif, tetapi juga rehabilitatif. Namun, untuk rehabilitasi, Saifullah melemparkan tanggung jawab kepada lembaga swadaya masyarakat. ”RSU Dr Soetomo sudah menangani bagian kuratif dan sedikit rehabilitatif. Lebih bagus rehabilitasi ditangani LSM atau lembaga yang peduli, sedangkan pemerintah lebih pada preventif dan promotifnya,” tutur Saifullah. Direktur Eksekutif Hotline, lembaga pendamping ODHA, Esthi Susanti menegaskan, AIDS adalah masalah bersama, bukan sekadar masalah individu. Pemerintah semestinya membuat standardisasi penanganan pasien HIV/AIDS. Dengan demikian, penanganan tidak dilakukan kasus per kasus, melainkan ada mekanisme yang terstandar. Dari standardisasi ini, profesionalisme dalam penanganan pasien HIV/AIDS bisa dimunculkan. ”Kalau hanya mengandalkan LSM, energi baik psikis, fisik, maupun dananya sangat terbatas,” kata Esthi.

Meningkat

Direktur Utama RSU Dr Soetomo dr Slamet Riyadi Yuwono DTM&H MARS menambahkan, selama ini pihaknya menangani tahap rehabilitasi medis seperti fisioterapi dan rawat jalan. Adapun rehabilitasi sosial bagi pengidap HIV/AIDS belum ada, meski sangat dibutuhkan. Saat ini Dinas Kesehatan Jatim mencatat 9.149 kasus HIV/AIDS. Meski demikian, diperkirakan terdapat 27.062 orang yang terinfeksi HIV/AIDS. ”Fenomena ini ibarat gunung es, permukaannya saja yang tampak,” kata Dodo. Di RSU Dr Soetomo, peningkatan selalu terjadi setiap tahun. Sejak Februari 2004 hingga Oktober 2010, sebanyak 3.465 pasien HIV/AIDS dirawat di rumah sakit milik Pemprov Jatim itu. Sepanjang 2010, terdaftar 567 pasien baru. Karena rumah sakit di daerah selalu merujuk pengidap HIV/AIDS ke RSU Dr Soetomo, Unit Perawatan Intermediet Penyakit Infeksi (UPIPI) RSU Dr Soetomo, tempat merawat pasien HIV/AIDS, kerap kewalahan. ”Tapi kami tidak boleh menolak pasien karena RSU Dr Soetomo merupakan rumah sakit rujukan,” kata Slamet. Untuk itu, RSU Dr Soetomo menambah daya tampung UPIPI dari 12 tempat tidur menjadi 30 tempat tidur. UPIPI juga menambah ruangan untuk poliklinik rawat jalan bagi pengidap HIV/AIDS. (INA)

Sumber: Kompas, Kamis, 2 Desember 2010

Sunday, November 28, 2010

Pengidap HIV Hamil Sebaiknya Operasi Caesar

Semarang (ANTARA News) - Pakar kebidanan dan penyakit kandungan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Kariadi Semarang dr Agoes Oerip Poerwoko mengatakan wanita pengidap "human immunodeficiency virus" (HIV) sebaiknya melahirkan dengan operasi caesar. "Ibu pengidap HIV yang hamil memang disarankan melakukan proses persalinan melalui operasi caesar. Ini untuk menghindari penularan HIV pada janin karena luka akibat proses persalinan normal," katanya di Semarang, Minggu. Menurut dia, bayi yang terlahir dari ibu positif HIV tidak selalu tertular virus, dan penularan HIV pada bayi tersebut baru bisa diketahui setelah usianya menginjak 18 bulan. Karena itu, kata dia, para wanita yang terinfeksi HIV boleh saja hamil, namun ada sejumlah hal yang harus diwaspadai agar virus tersebut tidak menular kepada buah hatinya. Ia mengatakan wanita pengidap HIV harus merencanakan kehamilannya, termasuk pemeriksaan awal seperti jumlah virus dan kondisi kekebalan tubuhnya, apalagi penularan HIV pada janin terjadi melalui plasenta. "Kalau plasenta si ibu sehat, kemungkinan bayi yang dikandungnya tidak ikut tertular HIV," kata Agoes yang juga anggota tim HIV/AIDS RSUP dr Kariadi Semarang tersebut. Akan tetapi, kata dia, sehat atau tidaknya plasenta si ibu tidak terlihat melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG), dan semakin banyak jumlah virus yang terkandung memperbesar risiko penularan HIV pada janin. "Untuk memperkecil risiko penularan pada janinnya, wanita pengidap HIV yang hamil harus selalu mengonsumsi obat `Antiretroviral` (ARV) untuk memperlambat perkembangbiakan virus dalam tubuh," katanya. Selain itu, kata dia, upaya meminimalkan penularan virus HIV pada bayi dilakukan dengan memberikan obat profilaksis pada setiap bayi yang terlahir dari rahim ibu yang positif mengidap virus HIV. Disinggung pemberian air susu ibu (ASI) pada bayi tersebut, ia mengatakan hal itu boleh saja dilakukan dan memang lebih baik, meskipun tetap memiliki risiko terhadap penularan HIV pada bayi. "Boleh saja (pemberian ASI, red.), namun sebaiknya jangan dicampur dengan pemberian susu formula, sebab susu formula dikhawatirkan membuat usus bayi terluka dan tidak memiliki zat antibodi seperti halnya ASI," kata Agoes.(*)

Sumber: Antara, Minggu, 28 November 2010

BKKBN: 51 Persen Remaja Jabodetabek Tidak Perawan

Jakarta (ANTARA News) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mencatat hasil survei pada 2010 menunjukkan, 51 persen remaja di Jabodetabek telah melakukan seks pranikah. "Artinya dari 100 remaja, 51 sudah tidak perawan," ujar Kepala BKKBN Sugiri Syarief usai memberikan sambutan acara Grand Final Kontes Rap dalam memperingati Hari AIDS Sedunia di lapangan parkir Monas, Jakarta Minggu (28/11). Hasil survei untuk beberapa wilayah lain di Indonesia, seks pranikah juga dilakukan beberapa remaja, misalnya saja di Surabaya tercatat 54 persen, di Bandung 47 persen, dan 52 persen di Medan. "Hasil penelitian di Yogya dari 1.160 mahasiswa, sekitar 37 persen mengalami kehamilan sebelum menikah," kata Sugiri. Selain itu, data tentang penyalahgunaan narkoba menunjukkan, dari 3,2 juta jiwa yang ketagihan narkoba, 78 persennya adalah remaja. Sedangkan penderita HIV/AIDS terus meningkat setiap tahunnya. Solusinya, lanjut Sugiri Syarif, konseling untuk remaja agar tidak melakukan seks pra nikah akan terus dilakukan. Dari rilis BKKBN yang diterima wartawan diketahui, estimasi jumlah aborsi di Indonesia per tahun mencapi 2,4 juta jiwa. 800 ribu di antaranya terjadi di kalangan remaja. Berdasarkan data Kemenkes pada akhir Juni 2010 terdapat 21.770 kasus AIDS dan 47.157 kasus HIV positif dengan persentase pengidap usia 20-29 tahun yakni 48,1 persen dan usia 30-39 tahun sebanyak 30,9 persen. Selain itu kasus penularan terbanyak adalah heteroseksual sebanyak 49,3 persen, homoseksual sebanyak 3,3 persen dan IDU (jarum suntik) 40,4 persen.(*)

Sumber: Antara, Minggu, 28 November 2010

10 Kesalahan Berkas Lamaran Pekerjaan

KOMPAS.com - Resume atau berkas lamaran pekerjaan seharusnya berisi segala hal mengenai diri dan kelebihan Anda. Hal tersebut, sebaiknya dibuat dengan ringkas, mudah dibaca, mudah dimengerti, dan menonjolkan alasan mengapa Anda yang sebaiknya dipilih untuk menempati pekerjaan yang Anda tuju itu. Sebelum dikirimkan, Anda harus membaca berulang-ulang untuk memastikan bahwa isinya sudah cukup tepat dan menceritakan tentang diri Anda. Anda mungkin butuh waktu berjam-jam untuk menyusun resume Anda, tetapi si pewawancara mungkin hanya butuh beberapa menit saja untuk membacanya. Ketika ada kesalahan, tanpa segan-segan melewatkan resume Anda. Pastikan resume Anda dibaca lengkap serta tidak terhempas begitu saja karena ada kesalahan umum yang sebenarnya bisa dihindari. Berikut adalah beberapa kesalahan umum yang bisa Anda hindari:

1. Tidak menyertakan surat pengantar lamaran

Surat lamaran pekerjaan (bukan curriculum vitae), bernilai penting pada saat pemrosesan pembacaan surat lamaran pekerjaan. Banyak perusahaan yang langsung membuang berkas lamaran pekerjaan yang tak menyertakan surat pengantar tersebut. Pastikan Anda menuliskan ringkasan riwayat diri Anda dengan tepat pada cover letter. Jelaskan mengenai kualifikasi Anda, jarak antara waktu kerja yang cukup jauh, serta informasi lain yang sekiranya dibutuhkan oleh perusahaan yang Anda tuju.

2. Berpikir bahwa salah ketik itu wajar

Dalam survei yang dilakukan kepada para HRD (Human Resources Department), kesalahan yang tersering mereka lihat dalam resume adalah kesalahan pengetikan atau sering disebut "typo". Jangan segan untuk meminta orang lain membaca kembali berkas lamaran pekerjaan Anda untuk memastikan tidak ada kesalahan, apalagi jika Anda mengirim lamaran dalam bahasa Inggris atau bahasa lain yang sebenarnya belum Anda kuasai.

3. Terlalu generik

Ada banyak contoh penulisan surat lamaran pekerjaan yang bisa Anda contoh. Tetapi, saking umumnya, kadang para pembaca surat lamaran pekerjaan itu jadi hafal polanya. Nah, pastikan Anda menuliskan lamaran pekerjaan tepat guna dengan posisi yang Anda tuju. Buat surat lamaran pekerjaan Anda cukup personal dan tidak terlihat seperti Anda setengah hati melamarnya. Apalagi ternyata terselip nama perusahaan lain yang pernah Anda coba kirim lamaran. Uh, sudah pasti berkas Anda langsung disingkirkan.

4. Memfokuskan pada tugas, bukan hasil akhir

Ketimbang menuliskan daftar penugasan yang pernah Anda kerjakan, lebih baik Anda tuliskan apa saja hasil yang pernah Anda dapatkan dan bagaimana hal tersebut membantu perusahaan. Contoh, jika Anda pernah berhasil berkontribusi pada pendapatan perusahaan saat mencapai penghasilan tertinggi dalam sejarah dengan program yang Anda buat, maka tempat Anda melamar akan sangat tertarik pada Anda.

5. Obyektif egois

Para pencari pekerja akan mencoba melihat apakah Anda adalah kandidat yang tepat untuk posisi di lembaga mereka, jadi, apa pun yang ada di dalam resume Anda seharusnya merujuk kepada pengalaman dan keberhasilan Anda. Ringkasan kualifikasi yang menceritakan mengenai keberhasilan Anda akan lebih efektif ketimbang pernyataan tujuan Anda yang generik.

6. Format resume yang "berbunga-bunga"

Tentu, penggunaan kertas berwarna pink dan penggunaan huruf yang besar-kecil dengan warna yang berbeda-beda akan membuat berkas lamaran Anda terlihat berbeda dan menonjol, tetapi bukan dalam artian yang bagus. Biasakan untuk menuliskan resume menggunakan kertas dan font yang standar saja. Gunakan tipe font Arial atau Times New Roman berwarna hitam di atas kertas putih..

7. Salah cantum gelar dan tanggal

Salah satu kesalahan yang sering tertangkap adalah kesalahan pada pencantuman gelar. Ada yang saking bersemangatnya, gelar tersebut sudah dicantumkan, pada saat ia mengirimkan lamaran, padahal wisuda atau kelulusannya baru akan diadakan bulan depan. Memaksakan hal tersebut bisa membuat Anda terlihat seperti "berbohong".

8. Alasan pergi dari kantor lama

Jangan mencantumkan sesuatu yang bernada negatif dalam resume Anda (juga saat wawancara kerja). Jika Anda meninggalkan posisi lama karena pengurangan tenaga kerja atau karena dipecat, sebaiknya ungkapkan hal tersebut hanya jika ditanya.

9. Mencantumkan terlalu banyak informasi personal

Jika tak ada hubungannya dengan karier Anda, tak usah cantumkan kegiatan pribadi Anda. Begitu pun dengan tinggi atau berat badan (kecuali memang diminta), afiliasi dalam bidang agama, orientasi seksual, hobi memancing, atau apa pun yang bisa berbalik menghakimi Anda.

10. Terlalu panjang

Jika ada pekerjaan di masa lalu yang tak lagi relevan dengan karier Anda, sebaiknya tak usah dicantumkan. Panjang halaman resume disarankan tak lebih dari 2 halaman. Jadi, pastikan Anda mencantumkan hal-hal yang relevan saja. Para manager HRD, dalam survei yang dilangsungkan oleh Careerbuilder, 21 persen responden mengatakan resume yang lebih panjang dari 2 halaman terlalu panjang, membosankan, dan banyak salahnya.

Sumber: Kompas.com, Senin, 29/11/2010

Friday, November 26, 2010

WHO: 600.000 Perokok Pasif Tewas Tiap Tahun

London (ANTARA News/Reuters) - Sekitar satu dari 100 penyebab kematian di dunia diakibatkan merokok pasif, yang diperkirakan menewaskan 600.000 orang per tahun, menurut temuan para peneliti Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat. Dalam penelitian pertama untuk menaksir pengaruh dari merokok pasif, para pakar WHO menemukan anak-anak lebih terekspos pada asap rokok orang lain dibanding kelompok usia lainnya, dan akibatnya sekitar 165.000 diantaranya akan meninggal. "Dua per tiga dari kematian tersebut terjadi di Afrika dan Asia selatan," kata para peneliti yang diketuai oleh Annette Pruss-Ustun dari WHO di Jenewa, yang menulis temuan itu. Eksposur anak pada asap rokok seringnya terjadi di rumah, dan penyakit infeksi dan tembakau merupakan kombinasi mematikan bagi anak-anak, kata mereka. Mengomentari penemuan yang ditulis pada jurnal Lancet, Heather Wipfli dan Jonathan Samet dari Universitas Southern California mengatakan banyak pengambil kebijakan mencoba memotivasi keluarga agar berhenti merokok di dalam rumah. "Di beberapa negara, banyak rumah bebas rokok tetapi masih jauh dari umum," tulis mereka. Para

ilmuwan WHO menggunakan data dari 192 negara untuk penelitian mereka. Guna mendapat data komprehensif dari seluruh 192 negara itu, mereka harus kembali pada 2004. Mereka menggunakan contoh matematis untuk memperkirakan kematian dan lamanya kematian dalam kesehatan baik. Secara global, 40 persen anak-anak, 33 persen laki-laki non-perokok dan 35 persen perempuan non-perokok terekspos rokok pasif pada 2004, menurut temuan mereka. Hasil eksposur ini diperkirakan menimbulkan 379.000 kematian akibat penyakit jantung, 165.000 infeksi pernapasan bawah, 36.900 dari asma dan 21.400 dari kanker paru-paru. Untuk pengaruh penuh merokok, kematian ini dapat menambah dari estimasi 5,1 juta kematian per tahun pengguna aktif tembakau, kata kelompok peneliti itu.

Anak-anak
Meski kematian anak-anak umum terjadi di negara-negara miskin dan menengah, kematian pada orang dewasa tersebar di seluruh negara dengan berbagai tingkat pendapatan. Negara-negara berpendapatan tinggi seperti Eropa, hanya 71 anak yang meninggal, sementara 35.388 kematian terjadi pada orang dewasa. Di Afrika, diperkirakan 43.375 kematian anak dibanding 9.514 kematian pada orang dewasa. Pruss-Ustun mendesak banyak negara untuk memperkuat Kerangka Konvensi Pengendalian Tembakau milik WHO, seperti meninggikan pajak tembakau, membuat bungkus rokok yang polos dan pelarangan iklan produk tembakau. "Pembuat kebijakan harus mengetahui bahwa menegakkan hukum bebas rokok kemungkinan akan banyak mengurangi angka kematian disebabkan dari eksposur rokok pasif dalam tahun pertama dari implementasinya, disertai dengan berkurangnya penyakit dalam sistem sosial dan kesehatan," tulisnya. Hanya 7,4 persen penduduk dunia yang hidup dalam naungan hukum bebas rokok, dan hukum tersebut tidak selalu ditegakkan. Tempat yang sudah diberlakukan peraturan bebas rokok, penelitian itu menunjukkan bahwa eksposur pada rokok pasif dalam tempat beresiko tinggi seperti bar dan restoran dapat dipotong hingga 90 persen, dan umumnya hingga 60 persen, kata para peneliti. Penelitian tersebut juga menunjukkan peraturan membantu mengurangi angka rokok yang dibakar oleh perokok dan menghasilkan tingkat kesuksesan tinggi pada orang yang ingin berhenti merokok.(KR-IFB/H-RN/S026)

Sumber: Antara, Jumat, 26 November 2010

Pendidikan HIV/AIDS Perlu "Di-review"

JAKARTA, KOMPAS.com - Pendidikan tentang HIV/AIDS sudah terintegrasi lewat beberapa mata pelajaran di sekolah seperti Biologi, bahasa Indonesia, Pendidikan Jasmani Kesehatan, dan lain-lainnya. Akan tetapi kurikulum tersebut juga akan di-review supaya jelas topik yang sangat penting atau tidak untuk bisa masuk kurikulum sehingga tepat sasaran. Demikian dikatakan Dirjen Pendidikan Non Formal dan Informal Kementrian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) Hamid Muhammad di Jakarta, Jumat (26/11/2010). Pengkajian ulang tersebut dimaksudkan agar edukasi tentang HIV/AIDS menjadi lebih mudah dimengerti. "Dengan review ini diharapkan pendidikan mengenai HIV/AIDS tidak abu-abu,” tandas Hamid. Menurut dia, pencegahan penularan HIV/AIDS melalui sektor pendidikan dilakukan oleh Kemdiknas, baik melalui jalur formal maupun informal dengan cara memasukkan masalah HIV/AIDS agar terintegrasi dengan kurikulum pendidikan dasar, menengah, dan tinggi, serta melalui penyebarluasan buku pedoman, modul, poster, dan televisi. Pekan depan, tepatnya pada 1 Desember, Kemdiknas juga akan menyelenggarakan peringatan hari AIDS Sedunia. Tahun ini peringatan tersebut bertema Universal Acces and Human Right (Akses Universal dan Hak asasi Manusia) dengan subtema Peningkatan Hak dan Akses Pendidikan untuk Semua Guna Menekan Laju Epidemi HIV/AIDS di Indonesia menuju tercapainya Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs)”, serta slogan “Stop Aids”: Tingkatkan Hak dan Akses Pendidikan untuk semua. Arif Rahman, Ketua Harian Komite Nasional Unesco untuk Indonesia mengatakan, dalam memperingati hari AIDS Sedunia masih banyak dirayakan dengan perayaan. “Diharapkan dengan 50 persen lagi bisa diisi dengan kegiatan-kegiatan yang lebih positif seperti workshop atau seminar. Isi kegiatan harus lebih kontekstual dibandingkan yang sudah-sudah,” kata Arif.

Sumber: kompas.com, Jumat, 26 November 2010

Peneliti Temukan Pil Pencegah HIV

VIVAnews - Selama ini nama HIV (Human immunodeficiency virus) selalu menjadi momok yang sangat menakutkan, karena belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Setidaknya, baru-baru ini, para ilmuwan menemukan sebuah pil yang diklaim bisa mengurangi risiko terkena penyakit HIV secara dramatis. Menurut New York Times, pencegahan HIV dengan menggunakan pil bernama Truvada, berhasil mengurangi infeksi HIV secara dramatis dalam sebuah riset terhadap 2.500 laki-laki. Melalui sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh New England Journal of Medicine, dari ratusan laki-laki gay yang secara acak diberikan obat ini, ternyata hanya 44 persen di antaranya yang terinfeksi penyakit HIV. Namun, menurut Dr Anthony Fauci, Kepala Divisi National Institute of Health, yang melakukan survei tersebut, pil tersebut 90 persen lebih efektif bagi para pria gay yang benar-benar meminum pilnya secara jujur setiap hari. "Angka itu sangat tinggi," kata Dr Fauci, yang dalam riset ini bekerja sama dengan Bill and Melinda Gates Foundation. Pil bernama Truvada itu dijual begitu mahal di Amerika Serikat, yakni sekitar US$12.000 (Rp 107 juta) hingga US$14.000 (Rp125 juta). Tapi versi generik dari Truvada sudah tersedia di negara-negara dunia ketiga, dan dijual hanya seharga 40 sen (sekitar Rp1.500) untuk setiap pil. Sayangnya, walaupun perusahaan kesehatan dan asuransi akan membayar klaim obat untuk HIV bagi orang-orang yang telah terinfeksi penyakit ini, namun hingga kini belum ada kebijakan untuk menutup klaim obat pencegah HIV, bagi orang-orang yang belum terinfeksi. Selain itu kelemahan dari pil ini adalah efek samping yang ditimbulkannya. Pil ini ternyata dapat menyebabkan pusing-pusing dan rasa mual yang signifikan. Selain itu, para peneliti mengkhawatirkan penyebaran penggunaan Truvada untuk tujuan preventif malah justru memicu tipe HIV lain yang lebih kebal. Sebab, bila seseorang terinfeksi dan ia terus meminum Truvada, maka virus yang diidapnya bisa justru tumbuh menjadi virus yang kebal terhadap Truvada dan virus itu bisa menyebar ke orang lain. (umi)

Sumber: vivanews.com. Kamis, 25 November 2010

Saturday, November 13, 2010

Penderita HIV/AIDS Kota Malang Capai 1.500 Orang

Malang (ANTARA News) - Jumlah penderita penularan virus dan merapuhnya kekebalan tubuh (HIV/AIDS) di Kota Malang, Jawa Timur, pada tahun 2010 mengalami peningkatan cukup tajam, yakni mencapai 1.500 orang. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, Enny Sekar Rengganingati, Minggu, mengakui bahwa peningkatan jumlah penderita dan yang terinveksi HIV/AIDS pada tahun ini (2010) cukup tinggi. Dari 900 orang penderita pada tahun 2009, saat ini sudah mencapai 1.500 orang. "Jumlah 1.500 penderita ini yang terdeteksi melalui konseling atau klinik Voluntary Counselling and Testing for AIDS (VCT) yang ada di RSSA dan RSI Unisma dan yang tidak terdeteksi mungkin juga ribuan, karena masyarakat belum terbiasa dan menjadi budaya untuk memeriksakan diri (tes) HIV/AIDS," ujarnya. Ia mengakui, kecenderungan penderita kelompok ibu rumah tangga pada beberapa tahun terakhir terus meningkat. Dari total jumlah penderita yang terinveksi HIV/AIDS tersebut sekitar 5-10 persen adalah ibu rumah tangga dan 5 persen dari kelompok pelajar. Untuk menekan dan meminimalkan jumlah masyarakat yang terjangkit HIV/AIDS tersebut, katanya, Dinkes bersama berbagai pihak termasuk Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Malang secara intens melakukan penyuluhan ke seluruh wilayah untuk berbagai kelompok.

Jika kelompok risiko tinggi HIV/AIDS, seperti pekerja seks komersial (PSK), homoseksual dan waria, lanjutnya, penyuluhannya melalui even-even tertentu, kelompok ibu rumah tangga, penyuluhannya melalui program kesejahteraan keluarga (PKK) rukun tetangga maupun rukun warga (RT/RW) atau pengajian-pengajian yang rutin diselenggarakan kaum perempuan di lingkungannya masing-masing. Selain itu, kata Enny, pihaknya juga meningkatkan peran dari kelurahan siaga untuk membantu melakukan penyuluhan kepada masyarakat di lingkungan kelurahan masing-masing. "Pokonya penyuluhan tidak hanya dilakukan di lembaga resmi atau di sekolah saja, namun sudah menyentuh seluruh lapisan masyarakat," kata Enny. Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Malang, Bambang Priyo Utomo, mengakui bahwa darah yang didonorkan para pendonor di PMI setempat sekitar 20 persennya mengandung HIV/AIDS. "Kita tahu personel yang mendonorkan darahnya dan mengandung virus mematikan itu, namun kita tidak bisa langsung memberitahu yang bersangkutan. Kita upayakan dengan cara halus untuk tes darah di klinik atau RSSA, baru hasilnya diberikan secara langsung kepada yang bersangkutan," ujarnya menambahkan. Menurut Bambang yang juga Wakil Wali Kota Malang itu, darah donor yang mengandung virus HIV/AIDS langsung dimusnahkan dan darah donor yang sehat juga diproses melalui berbagai tahapan termasuk penyaringan (screening). (T.E009/P003)

Sumber: Antara, Minggu, 14 November 2010

Thursday, October 28, 2010

Rokok Baik Untuk Ekonomi Adalah Propaganda

Jakarta (ANTARA News) - Wakil Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, pemahaman bahwa industri tembakau baik untuk ekonomi merupakan propaganda yang dibuat oleh perusahaan rokok. "Pengertian industri tembakau, meski buruk untuk kesehatan, tetapi baik untuk ekonomi negara merupakan propaganda yang dibuat oleh perusahaan rokok," kata Direktur Tobacco Free Initiative WHO, Dr. Douglas Bettcher, saat diskusi dengan media mengenai bahaya rokok di kantor perwakilan WHO di Jakarta, Rabu. Dalam Forum Ekonomi Dunia di Jenewa, menurut dia, disepakati ada delapan penyakit tidak menular yang bisa menambah beban negara dan lebih beresiko daripada penyakit menular. Menurutnya, enam dari delapan penyakit tidak menular yang menjadi penyebab kematian di dunia diakibatkan oleh konsumsi tembakau. Ia juga menjelaskan kerugian yang diakibatkan oleh rokok mencapai 1,2 miliar dolar AS, sekitar 5-7 kali keuntungan pemerintah dari cukai produk tembakau tersebut, sehingga jelas lebih merugikan. Menurut warga negara Kanada itu, ada beberapa bukti bahwa kebijakan menaikkan pajak telah menurunkan angka perokok. "Thailand

memberlakukan cukai sampai 75 persen dari harga rokok dan sukses mengurangi angka perokok serta menaikkan pendapatan negara," kata Bettcher. Mesir, lanjutnya, menaikkan cukai rokok sampai 40 persen dan menggunakan penerimaan dari pajak itu untuk mendanai layanan kesehatan bebas biaya. "Di Indonesia, masyarakatnya permisif dan tidak ada batasan pada iklan di media dan sponsor pada acara atau kegiatan anak muda, seperti musik dan acara olah raga," katanya

WHO mengakui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang dilakukan kalangan swasta, tetapi tidak mengakui kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan tembakau, kata Bettcher. "Perusahaan tersebut pada dasarnya membunuh setengah dari konsumennya, jadi tidak bisa dibilang sebagai bertanggung jawab secara sosial," kata Bettcher yang akan berada di Jakarta hingga Jumat. Ia menyarankan pemerintah Indonesia menerapkan larangan merokok di tempat umum, ada gambar peringatan pada bungkus rokok, pelarangan iklan dan sponsor perusahaan rokok untuk pagelarlan musik dan olah raga sepenuhnya, serta membuka jalur telepon untuk perokok yang ingin berhenti. "Kami bukan ingin mematikan industri tembakau, tetapi hanya ingin aturan ketat supaya masyarakat dapat hidup dalam lingkungan sehat dengan membuat keputusan benar," imbuhnya. Ia menjelaskan sekitar 10-15 persen kematian di Indonesia berkaitan dengan rokok.(KR-IFB/A027)

Sumber: Antara, Kamis, 28 Oktober 2010

Sunday, October 24, 2010

21,2 Persen Remaja Indonesia Pernah Aborsi

Cilegon (ANTARA News) -Hasil survai yang dilakukan oleh Komnas Perlindungan Anak, sebanyak 21,2 persen remaja di Indonesia mengaku pernah melakukan aborsi, akibat hubungan di luar nikah dengan teman dekatnya. "Menurut survei yang dilakukan oleh Komnas Perlindungan anak di 33 provinsi, dari Januari sampai Juni tahun 2008 lalu, menemukan remaja kita sudah melakukan perbuatan yang melanggar norma kehidupan," kata Wali Kota Cilegon, Tb Iman Ariyadi saat memberikan sambutan dalam acara ajang kreatifitas PIK-Remaja di gedung negara rumah dinas wali kota, Sabtu. Selain itu survei Komnas Perlindungan Anak menyebutkan, 97 persen remaja SMP dan SMA pernah menonton film porno, 93, 7 persen remaja Indonesia pernah melakukan ciuman. "Dalam survai itu juga disebutkan sebanyak 62, 7 persen remaja SMP sudah tidak perawan lagi," katanya menambahkan. Dengan adanya survai tersebut, Wali Kota sangat berharap kepada semua lapisan untuk melakukan pengawasan terhadap remaja saat ini. "Peran keluarga dalam mendidik putra-putrinya sangat penting, selain itu juga lingkungan sekolah," katanya.

Oleh sebab itu, selaku pemerintah dan pribadi Iman bangga dengan kegiatan yang dilakukan oleh BKBPP selaku panitia penyelenggara acara ajang kreatifitas pusat informasi konseling (PIK) Remaja Kota Cilegon tahun 2010. Perhatian terhadap remaja saat ini harus lebih ditingkatkan lagi, seiring dengan permasalahannya yang kompleks. "Disadari atau tidak, bahwa remaja merupakan kelompok resiko tinggi dan sangat rentan terhadap masalah seksualitas, HIV dan Aids serta Napza, kehamilan yang tidak dikehendaki serta penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual," katanya menjelaskan. Sementara itu dalam ajang kreatifitas remaja Kota Cilegon yang dilakukan sejumlah perlombaan seperti lomba juara poster, untuk pemenang pertama yakni, Adrico Jihad dari SMAN 1 Cilegon, juara ke dua, Adi Firmansyah dari SMPN 5 Cilegon, dan juara ketiga, Marginingtyas AL dari SMPN2 Cilegon. Untuk lomba karya tulis ilmiah pemenang pertama, Atika Permatasari dari SMAN 1 Cilegon, juara kedua, Tuti Alawiyah dari SMP Tunas Bangsa Cilegon, dan pemenang ketiga, Rista Listiani dari SMA Ma`arif Cilegon. Sedangkan untuk lomba foto narsist, juara pertama, kedua dan ketiga masing-masing, Alwan dari SMPN 5 Cilegon, Wahyuni dari SMK YP 17 Cilegon, dan Nufus Apriyani dari SMPN 4 Cilegon.

Sumber: Antara, Sabtu, 23 Oktober 2010

Friday, October 22, 2010

Menkes: RPP Tembakau Disahkan Akhir 2010

VIVAnews - Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih menyatakan akan terus memperjuangkan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pengamanan Produk Tembakau Sebagai Zat Adiktif Bagi Kesehatan, meski peraturan itu terbentur sejumlah kepentingan. "Kita harus bijak dalam menanggapi RPP Tembakau, yang penting kita konsisten dan maju sedikit demi sedikit," kata Endang Rahayu Sedyaningsih di Jakarta, Sabtu 23 Oktober 2010. Menurut Endang, Kementerian Kesehatan sedang membentuk tim kecil untuk membahas RPP ini. Saat ditanya dampak RPP Tembakau terhadap industri rokok, Endang enggan berkomentar. "Untuk industri saya tidak tahu," katanya. Endang menjelaskan jika RPP tembakau ini berhasil disahkan, maka akan memiliki dampak besar bagi kesehatan masyarakat. Menkes berharap RPP Tembakau tidak mandek hingga bertahun-tahun karena program ini adalah prioritas Kementerian Kesehatan. Dia juga mengatakan, selama ini Kementerian terus melakukan lobi terhadap sejumlah pihak yang berkepentingan agar RPP ini cepat disahkan. "Saya berharap akhir tahun ini," katanya.

Beberapa waktu lalu Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendesak pemerintah segera mengesahkan RPP itu. Ketua KPAI Hadi Supeno mengatakan bahwa setiap anak memiliki hak mendapatkan perlindungan kesehatan dengan menyediakan berbagai fasilitas kesehatan. Menurut dia, kini semakin banyak anak-anak Indonesia yang menjadi korban industri rokok. Hasil penelitian terakhir, kata Hadi, menunjukkan, rata-rata prevalensi perokok pemula menjadi usia 7 tahun. Padahal, 10 tahun lalu rata-rata prevalensi perokok pemula pada usia 19 tahun. Dia menilai, iklan merupakan sarana yang sangat mudah diserap oleh anak-anak. Distribusi yang begitu mudahnya, sehingga balita pun dapat dengan mudah mendapatkan rokok. Karena itu, dia juga menegaskan, dalam RPP itu harus memuat berbagai ketentuan seperti, larangan iklan rokok di manapun, serta larangan sponsor rokok untuk kegiatan sosial, olah raga, kesenian, dan keagamaan.

Sumber: Vivanews.com, Sabtu, 23 Oktober 2010

Konsumsi Naik, Pengendalian Lemah

SYdney, Kompas - Pengendalian tembakau oleh pemerintah di negara-negara Asia Pasifik masih terbilang lemah. Padahal, konsumsi tembakau di kawasan ini terus naik. Indonesia termasuk yang tertinggal dalam pengendalian tembakau. Demikian terungkap dalam Asia Pacific Conference on Tobacco or Health (APACT) di Sydney, Australia, 6-9 Oktober 2010. Konsumsi rokok meningkat 2 persen-4 persen per tahun di Asia, sementara negara-negara maju konsumsi rokoknya berkurang 1 persen-1,5 persen per tahun. Bungon Ritthiphakdee dari Southeast Asia Tobacco Control Alliance (SEATCA) mengungkapkan, guna melindungi masyarakatnya, pemerintah jangan berkompromi soal pengendalian tembakau. ”Hampir 60 persen konsumsi tembakau ada di Asia dan Australia,” ujarnya, Jumat (8/10). Konsumsi tembakau terbesar di dunia oleh China, India, dan Indonesia. Mary Assunta dari International Tobacco Control Project sekaligus SEATCA mengatakan, negara-negara di dunia bergerak ke arah pengendalian produk tembakau, mengingat masalah kesehatan dan beban yang ditimbulkan. Pengendalian tembakau, antara lain, pengaturan kemasan dan pelabelan; perlindungan masyarakat terhadap asap tembakau; pengaturan iklan, sponsor, dan promosi; pengaturan harga dan pajak guna mengurangi permintaan akan rokok; serta regulasi. Implementasinya dalam bentuk peringatan kesehatan bergambar di kemasan rokok (tidak hanya teks); penerapan kawasan tanpa rokok; pelarangan iklan, sponsor; serta peningkatan pajak rokok.

Namun, pelaksanaannya belum merata. Masih ada negara yang setengah hati. Padahal, pengendalian produk tembakau tidak dapat dilakukan setengah-setengah dan harus paralel. Thailand, misalnya, sangat ketat melaksanakan seluruh strateginya. Bahkan, tempat penjualan rokok tidak boleh memamerkan rokok. Namun, sebagian negara hanya menerapkan sebagian strategi dan kadang tidak nasional. Dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara, Indonesia termasuk sangat longgar. Peringatan kesehatan di kemasan rokok hanya berupa teks dan belum ada pelarangan iklan dan sponsor industri rokok serta harga rokok pun terbilang murah. Hasil penelitian Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang disampaikan Abdillah Ahsan di Forum APACT, prevalensi kebiasaan merokok di Indonesia meningkat, yakni 27 persen pada 1995 menjadi 34,2 persen pada 2007. Selama kurun waktu itu, persentase pengeluaran rumah tangga untuk rokok menduduki peringkat kedua setelah beras (padi-padian). ”Uang rokok sembilan kali pengeluaran pendidikan dan 15 kali pengeluaran kesehatan,” ujar Abdillah. Penelitian Mardiati Nadjib Hayidin dari Fakultas Kesehatan Masyarakat UI pada 729 keluarga dan 3.231 individu di Sukabumi berkesimpulan serupa. Perokok menghabiskan lebih banyak uang untuk rokok ketimbang pengeluaran per kapita untuk makanan. ”Di kalangan perokok, rokok mengalahkan sembilan komoditas makanan lainnya,” ujarnya.

Sumber: Kompas.com, Sabtu, 9 Oktober 2010

Wednesday, October 20, 2010

Cukai Rokok Naik Tutup Kenaikan Target 2011

Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah akan menaikkan cukai hasil tembakau atau rokok pada 2011 menyusul kenaikan target penerimaan cukai yang meningkat dari Rp59,3 triliun pada APBNP 2010 menjadi Rp60,7 triliun pada RAPBN 2011. Dokumen Nota Keuangan dan RAPBN 2011 yang diperoleh di Jakarta, Kamis, menyebutkan, salah satu faktor yang berpengaruh pada peningkatan target penerimaan cukai adalah peningkatan tarif cukai rokok sesuai dengan roadmap cukai hasil tembakau. Faktor lain yang berpengaruh pada peningkatan penerimaan cukai adalah peningkatan tarif cukai minuman mengandung ethil alkohol (MMEA) dan ethil alkohol (EA), perbaikan administrasi kepabeanan dan cukai, dan extra effort untuk mengurangi peredaran barang kena cukai secara ilegal. Target penerimaan cukai pada tahun 2011 adalah sebesar Rp60,7 triliun, terdiri atas cukai hasil tembakau sebesar Rp58,1 triliun dan cukai MMEA dan EA sebesar Rp2,7 triliun. Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Thomas Sugijata mengakui adanya rencana pemerintah menaikkan tarif cukai rokok, namun kenaikannya tidak akan terlalu signifikan. "Akan ada penyesuaian tarif cukai, tetapi penyesuaian itu masih dalam tahap moderat. Artinya kalau dinaikan tidak akan terlalu signifikan," kata Thomas. Menurut dia, kenaikan target penerimaan cukai akan dipenuhi dari cukai rokok, bukan dari cukai MMEA atau minuman keras dan EA. Tarif cukai miras sudah mengalami kenaikan lebih dari 100 persen pada 2010 sehingga tidak mungkin dinaikkan kembali pada 2011.

Jika kenaikan cukai itu disetujui DPR maka kenaikan tarif cukai rokok akan mulai berlaku sejak semester pertama 2011. Thomas menyebutkan, untuk menutup kenaikan terget penerimaan cukai rokok, pemerintah tidak mungkin melakukannya dengan menaikkan jumlah produksi rokok karena pemerintah sudah menentukan pembatasan produksi rokok. "Secara alamiah produksi rokok memang naik, tetapi akan ada pembatasan sehingga yang dinaikkan tarifnya," katanya. Sementara mengenai besaran kenaikan tarif cukai rokok, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Agus Supriyanto mengungkapkan besarannya akan disesuaikan dengan perkiraan laju inflasi selama 2011 yaitu sekitar lima persen. "Sebesar lima persen, ya... inflasilah, sekadar menjaga nilai riilnya tidak turun, dinaikkan lima persen rata-rata," katanya. Menurut Agus, kenaikan tersebut akan berbeda-beda berdasarkan jenis rokoknya. "Tapi distribusi untuk tiap jenis rokok beda-beda. Untuk rokok putih lain, rokok kretek lain, untuk yang banyak nyerap tenaga kerja juga lain," katanya. Sebelumnya pada awal 2010, pemerintah juga memberlakukan kebijakan cukai hasil tembakau. Dalam kebijakan cukai 2010, sistem tarif cukai meneruskan kebijakan yang telah diambil pada tahun 2009, yaitu sistem tarif spesifik untuk semua jenis hasil tembakau dengan tetap mempertimbanqkan batasan produksi dan batasan harga jual eceran. Pertimbangan atas batasan harga jual eceran ini dilakukan mengingat varian harga jual eceran yang masih berlaku dalam sistem tarif cukai sebelumnya sangat tinggi sehingga tidak memungkinkan disimplifikasikan secara langsung melainkan dilakukan secara bertahap. Namun demikian, beban cukai secara keseluruhan mengalami kenaikan dengan besaran kenaikan beban cukai cukup bervariasi. Kenaikan yang dilakukan pada golongan I dimaksudkan untuk mencapai target penerimaan negara dan pengendalian konsumsi hasil tembakau. Kenaikan tarif cukai yang lebih besar pada sigaret putih mesin (SPM) diambil dalam rangka menghapus konversi atau menuju tarif cukai yang sama dengan sigaret kretek mesin (SKM). Besaran kenaikan tarif cukai tahun 2010 untuk sigaret adalah SKM I rata-rata sebesar Rp20, SKM II sebesar Rp20, SPM I sebesar Rp35, SPM II sebesar Rp28, sigaret kretek tangan (SKT) I sebesar Rp15, SKT II sebesar Rp15, dan SKT III sebesar Rp25 per batang. (ANT/A024)

Sumber: Antara, Kamis, 21 Oktober 2010

Friday, August 27, 2010

Y on Y Kasus HIV/AIDS Indonesia Naik Serius

Kementerian Kesehatan dan PBB serta Komisi Penanggulangan AIDS Nasional mengadakan pertemuan untuk membahas peningkatan kasus HIV/AIDS di Indonesia HIV/AIDS pada 30 Agustus 2010 di Jakarta. Siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis, menyatakan, kasus HIV/AIDS di Indonesia harus ditanggapi secara serius, karena jumlah penderita terus meningkat dari tahun ke tahun. Data Kementerian Kesehatan per Juni 2010 menunjukkan jumlah penderita HIV/AIDS mencapai 21.770 orang meningkat dibanding 2.000 hanya sekitar 607 orang. Berdasarkan jenis transmisi penularan sebanyak 10.722 kasus melalui heteroseksual, 718 kasus melalui homobiseksual, 8.786 kasus melalui penasun (pengguna narkoba suntik), 20 kasus melalui transmisi darah, 587 kasus transisi perinatal dan 937 kasus tidak diketahui. Program Harm Reduction menjadi salah satu kebijakan yang dipilih oleh pemerintah untuk mengurangi dampak buruk yang ditimbulkan epidemi HIV/AIDS di kalangan masyarakat. Wakil Ketua Komisi XI DPR Harry Azhar Aziz di Jakarta, Kamis mengatakan, peran sosial dan ekonomi seringkali menjadi penyebab utama munculnya kasus AIDS di Indonesia. "Rendahnya kemampuan perekonomian masyarakat pedesaan dan ketimpangan gender menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan masyarakat dan berujung pada keterbatasan terhadap akses informasi publik," katanya. Oleh karena itu, lanjut Harry Azhar , anggaran negara terutama dibidang kesehatan harus digunakan seoptimal mungkin terutama dalam sosialisasi mengenai AIDS. Anggaran kesehatan sangat berperan penting dalam usaha meningkatkan kesejahteran rakyat, karena itu pemerintah harus mengoptimalkan penggunaan anggaran tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas sumber daya manusia di Indonesia, ucapnya.

Sumber: Antaranews.com, Kamis, 26 Agustus 2010

Wednesday, August 25, 2010

Hati-hati Stroke Ancam Orang Muda, Kasus Naik

Jumlah penderita stroke di Indonesia dalam dasawarsa terakhir ini cenderung meningkat dan umumnya menyerang generasi muda yang masih dalam usia produktif. Kecenderungan itu berdampak terhadap menurunnya tingkat produktivitas sehingga dapat mengakibatkan terganggunya sosial ekonomi keluarga, kata spesialis penyakit syaraf serta Ketua Bidang Humas dan Penyuluhan Yayasan Stroke Indonesia, H Sutarto Projo Disastro Sp.s kepada pers di Jakarta, Senin. Sutarto Projo Disastro mengatakan, peningkatan jumlah penderita stroke di tanah air memang sudah tidak dapat dipungkiri yang identik dengan kolesterol yang disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat. "Kami mendukung ajakan (pabrik obat, red) Pfizer kepada masyarakat untuk lebih mengontrol kolesterolnya serta menyadari hidup lebih sehat, baik selama Ramadhan dan hari raya maupun setelah itu agar terhindar dari penyakita serius seperti stroke," katanya.

Deteksi rutin

Sementara itu spesialis penyakit jantung dan pembuluh darah, Ariesta Ann Sp JP mengatakan, gangguan kolesterol berasal data Internationl Stroke Conference, jumlah pengidap stroke di kawasan Asia terus meningkat. Stroke juga merupakan penyebab kematian ketiga terbesar di Indonesia dan saat ini cenderung mengancam usia-usia produktif di bawah 45 tahun, katanya. Bagi masyarakat yang belum terserang, risiko gangguan ini dapat dikontrol secara berkesinambungan untuk mengontrol gaya hidupnya melalui pola makan dan olahraga. Selain itu untuk mendeteksi risiko kolesterol yang mungkin dihadapi masyarakat harus secara rutin melakukan cek kolesterol setidaknya enam bulan sekali, ujarnya. Ia mengatakan, deteksi rutin ini dapat membantu masyarakat untuk lebih cepat bertindak dalam mengantisipasi gangguan kolesterol apabila tingkat risiko mereka sudah dinyatakan tinggi. Bagi warga yang terdeteksi memiliki risko ganggungan kolesterol tinggi harus segera bertindak cepat untuk menurunkan koleterol jahat yang ada didalam tubuhnya, ucapnya. Pfizer sejak 2005 telah mengenakan konsep tiga ring peduli kolesterol yang bertujuan untuk membantu masyarakat dalam mengontrol gaya hidupnya agar terbebas dari gangguan kolesterol tiga ring Peduli Kolesterol. Penekanan terhadap konsep ini dilakukan Pfizer melalui penyampaian informasi kepada masyarakat secara rutin seperti program road show dan situs www.pedulikolesterol.com serta jejaring sosial seperti facebook dan twittier.

Sumber: Antaranews.com, Senin, 23 Agustus 2010

Sunday, August 22, 2010

Ekstrak Kudzu Penyembuh Kecanduan Narkoba

Washington (ANTARA News) - Ekstrak dari pohon Kudzu yang sedang dikembangkan untuk mengobati pecandu alkohol mungkin juga membantu dalam mengobati pecandu kokain, kata beberapa peneliti di Gilead Sciences Inc., Ahad. Percobaan pada tikus memperlihatkan obat tersebut dapat menghentikan mereka mengkonsumsi kokain, demikian laporan tim Gilead di jurnal Nature Medicine. Gilead mewarisi obat percobaan tersebut tahun lalu, ketika dihasilkan di CV Therapeutic Inc. "Tak ada pengobatan yang efektif buat kecanduan kokain kendati ada banyak pengetahuan neurobiologi kecanduan obat," tulis Lina Yao, Ivan Diamond dan rekan mereka. Kudzu adalah obat kuno buat pecandu alkohol. Tanaman rambat itu, tanaman asli Asia, telah menyebar ke sebagian besar wilayah Southeast, Amerika Serikat, setelah diimpor untuk mengendalikan erosi tanah. CV Therapeutics membuat ekstrak sintetis yang disebut selective aldehyde dehyrogenase-2 inhibitor, atau "ALDH2i". Ekstrak itu menggunakan nama CVT-10216. Percobaan pada tikus memperlihatkan ekstrak tersebut dapat menghentikan hewan pengerat itu mengkonsumsi kokain. Ekstrak tersebut juga dapat mencegah kambuhnya kecanduan itu setelah semua tikus tersebut terbebas dari kokain. Mereka menemukan cara kerja ekstrak itu, yaitu menaikkan tingkat bahan yang disebut "tetrahydropapaveroline" atau "THP". Kecanduan kokain membuat tingkat satu bahan kimia otak yang disebut "dopamine" bertambah dan "THP" ikut campur dengan keadaan tersebut. "Kami menduga ALDH-2 inhibitor yang aman, selektif dan dapat berubah seperti ALDH2i mungkin memiliki potensi untuk mengurangi kecanduan kokain pada manusia dan mencegah kambuhnya kondisi itu," tulis para peneliti tersebut.(C003/A011)

Sumber: Antara, Senin, 23 Agustus 2010

Friday, August 6, 2010

Keperawanan Calon Dokter Laku Rp 2,8 Miliar

KOMPAS.com — Blogger cewek belasan tahun dari Hongaria menjual keperawanannya kepada juragan dari Inggris yang menang lelang sebesar 200.000 poundsterling atau sekitar Rp 2,85 miliar. Lelang keperawanan itu terjadi di eBay, situs lelang terbesar dunia. Gadis 18 tahun yang hanya disebut bernama Miss Spring itu sekarang sudah di Inggris guna menemui lelaki yang akan memerawaninya. Gadis pirang nan cantik itu ingin kuliah agar menjadi dokter dan sudah memenuhi syarat untuk masuk jurusan tersebut, tetapi merasa perlu untuk membantu keuangan keluarganya. Motif Miss Spring juga tak jauh-jauh dari alasan klasik lazimnya perempuan yang akhirnya terjun ke prostitusi. "Keluargaku punya utang, kami tidak dapat membayarnya. Ibu saya pinjam banyak uang dalam mata uang Swiss, francs. Karena ada krisis kredit di Hongaria, utang yang membengkak tiga kali lipat jika memakai mata uang Hongaria, forints, tidak bisa dia bayar," ceritanya. "Kami kehilangan rumah dan menjadi gelandangan. Saya ingin melunasi utang itu, makanya saya melakukan lelang ini." "Sebetulanya uang itu (Rp 2,85 miliar) tidak banyak karena setengahnya untuk bayar pajak, tetapi cukuplah untuk membayar utang dan supaya kami lepas dari tanggungan." Menurut Miss Spring lagi, "Saya awalnya berhubungan dengan dua penawar terakhir, pria Irlandia dan Inggris. Keduanya ingin saya datang kepada mereka. Saya pilih pria Inggris. Dia sangat simpatik dengan masalah saya." Miss Spring menceritakan, "Kedua lelaki itu ingin menikahi saya, merawat saya dan keluarga. Tapi bagi saya, ini hal lain. Menikah dan hidup dengan seseorang itu sebuah tantangan yang saya pun tidak yakin sudah siap." Kendati demikian, perempuan cantik itu dalam blognya tidak menuliskan bagaimana ia melanjutkan tawar-menawar itu hingga tercapai kesepakatan.

Sumber: Kompas.com, Jumat, 6 Agustus 2010

Saturday, July 31, 2010

Surat Untuk Saudaraku Muslimah

Putriku tercinta! Aku seorang yang telah berusia hampir lima puluh tahun. Hilang sudah masa remaja, impian dan khayalan. Aku telah mengunjungi banyak negeri, dan berjumpa dengan banyak orang.

Aku juga telah merasakan pahit getirnya dunia. Oleh karena itu dengarkanlah nasehat-nasehatku yang benar lagi jelas, berdasarkan pengalaman-pengalamanku, yang belum pernah engkau dengar dari orang lain sebelumnya.

Kami telah menulis dan mengajak kepada perbaikan moral, menghapus kejahatan dan mengekang hawa nafsu, sampai pena tumpul, dan mulut letih, tetapi kami tidak menghasilkan apa-apa. Kemungkaran tidak dapat kami berantas, bahkan semakin bertambah, kerusakan telah mewabah, para wanita keluar dengan pakaian merangsang, terbuka bagian lengan, betis dan lehernya.

Kami belum menemukan cara untuk memperbaiki, kami belum tahu jalannya. Sesungguhnya jalan kebaikan itu ada di depanmu, putriku! Kuncinya berada di tanganmu.

Benar bahwa lelakilah yang memulai langkah pertama dalam lorong dosa, tetapi bila engkau tidak setuju, laki-laki itu tidak akan berani, dan andaikata bukan lantaran lemah gemulaimu, laki-laki tidak akan bertambah parah. Engkaulah yang membuka pintu, kau katakan kepada si pencuri itu : silakan masuk … ketika ia telah mencuri, engkau berteriak : maling …! Tolong … tolong… saya kemalingan.

Demi Allah … dalam khayalan seorang pemuda tak melihat gadis kecuali gadis itu telah ia telanjangi pakaiannya.

Demi Allah … begitulah, jangan engkau percaya apa yang dikatakan laki-laki, bahwa ia tidak akan melihat gadis kecuali akhlak dan budi bahasanya. Ia akan berbicara kepadamu sebagai seorang sahabat.

Demi Allah … ia telah bohong! Senyuman yang diberikan pemuda kepadamu, kehalusan budi bahasa dan perhatian, semua itu tidak lain hanyalah merupakan perangkap rayuan ! setelah itu apa yang terjadi? Apa, wahai puteriku? Coba kau pikirkan!

Kalian berdua sesaat berada dalam kenikmatan, kemudian engkau ditinggalkan, dan engkau selamanya tetap akan merasakan penderitaan akibat kenikmatan itu. Pemuda tersebut akan mencari mangsa lain untuk diterkam kehormatannya, dan engakulah yang menanggung beban kehamilan dalam perutmu. Jiwamu menangis, keningmu tercoreng, selama hidupmu engkau akan tetap berkubang dalam kehinaan dan keaiban, masyarakat tidak akan mengampunimu selamanya.

Bila engkau bertemu dengan pemuda, kau palingkan muka, dan menghindarinya. Apabila pengganggumu berbuat lancang lewat perkataan atau tangan yang usil, kau lepaskan sepatu dari kakimu lalu kau lemparkan ke kepalanya, bila semua ini engkau lakukan, maka semua orang di jalan akan membelamu. Setelah itu anak-anak nakal itu takkan mengganggu gadis-gadis lagi. Apabila anak laki-laki itu menginginkan kebaikan maka ia akan mendatangi orang tuamu untuk melamar.

Cita-cita wanita tertinggi adalah perkawinan. Wanita, bagaimanapun juga status sosial, kekayaan, popularitas, dan prestasinya, sesuatu yang sangat didamba-dambakannya adalah menjadi isteri yang baik serta ibu rumah tangga yang terhormat.

Tak ada seorangpun yang mau menikahi pelacur, sekalipun ia lelaki hidung belang, apabila ia akan menikah tidak akan memilih wanita jalang (nakal), akan tetapi ia akan memilih wanita yang baik karena ia tidak rela bila ibu rumah tangga dan ibu putera-puterinya adalah seorang wanita amoral.

Sesungguhnya krisis perkawinan terjadi disebabkan kalian kaum wanita! Krisis perkawinan terjadi disebabkan perbuatan wanita-wanita asusila, sehingga para pemuda tidak membutuhkan isteri, akibatnya banyak para gadis berusia cukup untuk nikah tidak mendapatkan suami. Mengapa wanita-wanita yang baik belum juga sadar? Mengapa kalian tidak berusaha memberantas malapetaka ini? Kalianlah yang lebih patut dan lebih mampu daripada kaum laki-laki untuk melakukan usaha itu karena kalian telah mengerti bahasa wanita dan cara menyadarkan mereka, dan oleh karena yang menjadi korban kerusakan ini adalah kalian, para wanita mulia dan beragama.

Maka hendaklah kalian mengajak mereka agar bertakwa kepada Allah, bila mereka tidak mau bertakwa, peringatkanlah mereka akan akibat yang buruk dari perzinaan seperti terjangkitnya suatu penyakit. Bila mereka masih membangkang maka beritahukan akan kenyataan yang ada, katakan kepada mereka : kalian adalah gadis-gadis remaja putri yang cantik, oleh karena itu banyak pemuda mendatangi kalian dan berebut di sekitar kalian, akan tetapi apakah keremajaan dan kecantikan itu akan kekal? Semua makhluk di dunia ini tidak ada yang kekal. Bagaimana kelanjutannya, bila kalian sudah menjadi nenek dengan punggung bungkuk dan wajah keriput? Saat itu, siapakah yang akan memperhatikan? Siapa yang akan menaruh simpati?

Tahukah kalian, siapakah yang memperhatikan, menghormati dan mencintai seorang nenek? Mereka adalah anak dan para cucunya, saat itulah nenek tersebut menjadi seorang ratu ditengah rakyatnya. Duduk di atas singgasana dengan memakai mahkota, tetapi bagaimana dengan nenek yang lain, yang masih belum bersuami itu? Apakah kelezatan itu sebanding dengan penderitaan di atas? Apakah akibat itu akan kita tukar dengan kelezatan sementara?

Dan berilah nasehat-nasehat yang serupa, saya yakin kalian tidak perlu petunjuk orang lain serta tidak kehabisan cara untuk menasehati saudari-saudari yang sesat dan patut dikasihani. Bila kalian tidak dapat mengatasi mereka, berusahalah untuk menjaga wanita-wanita baik, gadis-gadis yang sedang tumbuh, agar mereka tidak menempuh jalan yang salah.

Saya tidak minta kalian untuk mengubah secara drastis mengembalikan wanita kini menjadi wanita berkepribadian muslimah yang benar, akan tetapi kembalilah ke jalan yang benar setapak demi setapak sebagaimana kalian menerima kerusakan sedikit demi sedikit.

Perbaikan tersebut tidak dapat diatasi hanya dalam waktu sehari atau dalam waktu singkat, malainkan dengan kembali ke jalan yang benar dari jalan yang semula kita lewati menuju keburukan walaupun jalan itu sekarang telah jauh, tidak menjadi soal, orang yang tidak mau menempuh jalan panjang yang hanya satu-satunya ini, tidak akan pernah sampai. Kita mulai dengan memberantas pergaulan bebas, (kalaupun) seorang wanita membuka wajahnya tidak berarti ia boleh bergaul dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Istri tanpa tutup wajah bukan berarti ia boleh menyambut kawan suami dirumahnya, atau menyalaminya bila bertemu di kereta, bertemu di jalan, atau seorang gadis menjabat tangan kawan pria di sekolah, berbincang-bincang, berjalan seiring, belajar bersama untuk ujian, dia lupa bahwa Allah menjadikannya sebagai wanita dan kawannya sebagai pria, satu dengan lain dapat saling terangsang. Baik wanita, pria, atau seluruh penduduk dunia tidak akan mampu mengubah ciptaan Allah, menyamakan dua jenis atau menghapus rangsangan seks dari dalam jiwa mereka.

Mereka yang menggembar-gemborkan emansipasi dan pergaulan bebas atas kemajuan adalah pembohong bila dilihat dari dua sebab:

Pertama: karena itu semua mereka lakukan untuk kepuasan pada diri mereka, memberikan kenikmatan-kenikmatan melihat angota badan yang terbuka dan kenikmatan-kenikmatan lain yang mereka bayangkan. Akan tetapi mereka tidak berani berterus terang, oleh karena itu mereka bertopeng dengan kalimat yang mengagumkan yang sama sekali tidak ada artinya, seperti kemajuan, modernisasi, kehidupan kampus, dan ungkapan-ungkapan yang lain yang kosong tanpa makna bagaikan gendang.

Kedua: mereka bohong oleh karena mereka bermakmum pada Eropa, menjadikan eropa bagaikan kiblat, dan mereka tidak dapat memahami kebenaran kecuali apa-apa yang datang dari sana, dari Paris, London, Berlin dan New York. Sekalipun berupa dansa, pornografi, pergaulan bebas di sekolah, buka aurat di lapangan dan telanjang di pantai (atau di kolam renang). Kebatilan menurut mereka adalah segala sesuatu yang datangnya dari timur, sekolah-sekolah Islam dan masjid-masjid, walapun berupa kehormatan, kemuliaan,, kesucian dan petunjuk. Kata mereka, pergaulan bebas itu dapat mengurangi nafsu birahi, mendidik watak dan dapat menekan libido seksual, untuk menjawab ini saya limpahkan pada mereka yang telah mencoba pergaulan bebas di sekolah-sekolah, seperti Rusia yang tidak beragama, tidak pernah mendengar para ulama dan pendeta. Bukankah mereka telah meninggalkan percobaan ini setelah melihat bahwa hal ini amat merusak?

Saya tidak berbicara dengan para pemuda, saya tidak ingin mereka mendengar, saya tahu, mungkin mereka menyanggah dan mencemoohkan saya karena saya telah menghalangi mereka untuk memperoleh kenikmatan dan kelezatan, akan tetapi saya berbicara kepada kalian, putri-putriku, wahai putriku yang beriman dan beragama! Putriku yang terhormat dan terpelihara ketahuilah bahwa yang menjadi korban semua ini bukan orang lain kecuali engkau.

Oleh karena itu jangan berikan diri kalian sebagai korban iblis, jangan dengarkan ucapan mereka yang merayumu dengan pergaulan yang alasannya, hak asasi, modernisasi, emansipasi dan kehidupan kampus. Sungguh kebanyakan orang yang terkutuk ini tidak beristri dan tidak memiliki anak, mereka sama sekali tidak peduli dengan kalian selain untuk pemuas kelezatan sementara. Sedangkan saya adalah seorang ayah dari empat orang gadis. Bila saya membela kalian, berarti saya membela putri-putriku sendiri. Saya ingin kalian bahagia seperti yang saya inginkan untuk putri-putriku.

Sesungguhnya tidak ada yang mereka inginkan selain memperkosa kehormatan wanita, kemuliaan yang tercela tidak akan bisa kembali, begitu juga martabat yang hilang tidak akan dapat ditemukan kembali.

Bila anak putri jatuh, tak seorangpun di antara mereka mau menyingsingkan lengan untuk membangunkannya dari lembah kehinaan, yang engkau dapati mereka hanya memperebutkan kecantikan si gadis, apabila telah berubah dan hilang, mereka pun lalu pergi menelantarkannya, persis seperti anjing meninggalkan bangkai yang tidak tersisa daging sedikitpun.

Inilah nasehatku padamu, putriku. Inilah kebenaran. Selain ini janganlah engkau percayai. Sadarlah bahwa di tanganmulah, bukan di tangan kami kaum laki-laki, kunci pintu perbaikan. Bila mau perbaikilah diri kalian, dengan demikian umat pun kan menjadi baik.

(wallahul musta’an).
Sumber: http://www.islamhouse.com/p/59236

Sunday, July 11, 2010

Usia Nikah Pertama Idealnya 21-25 Tahun

Bengkulu (ANTARA News) - Usia pernikahan pertama bagi remaja saat ini idealnya 21 hingga 25 tahun, pada usia itu remaja sudah tumbuh pengetahuan dan kesadaran dalam pengelolaan kesehatan reproduksi. "Usia nikah pertama bagi remaja putri 21 dan pria 25 tahun, usia dibawah itu belum matang bagi remaja dalam pengelolaan kesehatan reproduksi," kata Kepala Badan Kependudukan Keluarga Berenacana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu Hilaluddin Nasir, di Bengkulu, Jum`at. Hal itu berpengaruh terhadap kesehatan pasangan maupun generasi atau anak dari pasangan muda itu, jadi dimasa mendatang usia remaja menikah pertama pada usia dewasa. Ia menyebutkan, pendewasaan usia perkawinan bagi remaja itu sudah dicetuskan pada Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan (ICPD) 1994 di Kairo, Mesir. Dalam konferensi tersebut terdapat 12 hak reproduksi bagi remaja, harus dimiliki individu remaja pria dan wanita yang berkaitan dengan reproduksi. Tujuan penundaan usia perkawinan itu, untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja dalam pengelolan program ksehatan reproduksi remaja (KRR). Perlunya pendewasan usia perkawinan itu untuk mewujudkan remaja yang tegar menuju tegar keluarga, ujarnya.

Konferensi ICPD Kairo menyebutkan beberapa hak bagi reproduksi selain dari hak penundaan usia perkawinan. Hak mendapat informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi. Serta hak mendapatkan pelayanan dan perlindungan,kebebasan berpikir tentang kesehatan reproduksi, dan hak bebas dari penganiayaan perlakuan buruk, katanya. Dengan tumbuhnya usia nikah semakin dewasa dapat menunjang keberhasilan program KB melalui menurunya angka anak dilahirkan tiap ibu atau total fertility rate(TFR). "Kita yakini program yang ada di BKKBN dapat berhasil karena pada SDKI 2003 usia nikah masih 19.2, sedangkan pada SDKI 2007 meningkat pada usia 19.8 tahun. Selain pada ICDP Kairo 1994, juga terdapat acuan pada survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia 2007, berpendapat bahwa ideal usia perkawinan pertama wanita 23, 1 tahun dan 25,6 bagi pria. Sementara itu program pendewasaan perkawinan dan perencanaan keluarga merupakan kerangka program pendewasaan usia perkawinan (PUP) yang terdiri 3 masa reproduksi.? Masa penundaan usia perkawinan dan kehamilan, menjarangkan kehamilan, dan mencegah kehamilan,? katanya. Penundaan masa perkawinan dan kehamilan terdapat alasan yang objektif bila usia perkawinan wanita pada usia 20 tahun, dengan kondisi rahim dan panggul yang belum optimal, kemudian terjadi kemungkinan risiko medik, dengan keguguran serta kemungkinan kesulitan dalam persalinan.(T.PSO-150/P003)

Sumber: Antara, Jumat, 9 Juli 2010