Sunday, November 28, 2010

Pengidap HIV Hamil Sebaiknya Operasi Caesar

Semarang (ANTARA News) - Pakar kebidanan dan penyakit kandungan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Kariadi Semarang dr Agoes Oerip Poerwoko mengatakan wanita pengidap "human immunodeficiency virus" (HIV) sebaiknya melahirkan dengan operasi caesar. "Ibu pengidap HIV yang hamil memang disarankan melakukan proses persalinan melalui operasi caesar. Ini untuk menghindari penularan HIV pada janin karena luka akibat proses persalinan normal," katanya di Semarang, Minggu. Menurut dia, bayi yang terlahir dari ibu positif HIV tidak selalu tertular virus, dan penularan HIV pada bayi tersebut baru bisa diketahui setelah usianya menginjak 18 bulan. Karena itu, kata dia, para wanita yang terinfeksi HIV boleh saja hamil, namun ada sejumlah hal yang harus diwaspadai agar virus tersebut tidak menular kepada buah hatinya. Ia mengatakan wanita pengidap HIV harus merencanakan kehamilannya, termasuk pemeriksaan awal seperti jumlah virus dan kondisi kekebalan tubuhnya, apalagi penularan HIV pada janin terjadi melalui plasenta. "Kalau plasenta si ibu sehat, kemungkinan bayi yang dikandungnya tidak ikut tertular HIV," kata Agoes yang juga anggota tim HIV/AIDS RSUP dr Kariadi Semarang tersebut. Akan tetapi, kata dia, sehat atau tidaknya plasenta si ibu tidak terlihat melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG), dan semakin banyak jumlah virus yang terkandung memperbesar risiko penularan HIV pada janin. "Untuk memperkecil risiko penularan pada janinnya, wanita pengidap HIV yang hamil harus selalu mengonsumsi obat `Antiretroviral` (ARV) untuk memperlambat perkembangbiakan virus dalam tubuh," katanya. Selain itu, kata dia, upaya meminimalkan penularan virus HIV pada bayi dilakukan dengan memberikan obat profilaksis pada setiap bayi yang terlahir dari rahim ibu yang positif mengidap virus HIV. Disinggung pemberian air susu ibu (ASI) pada bayi tersebut, ia mengatakan hal itu boleh saja dilakukan dan memang lebih baik, meskipun tetap memiliki risiko terhadap penularan HIV pada bayi. "Boleh saja (pemberian ASI, red.), namun sebaiknya jangan dicampur dengan pemberian susu formula, sebab susu formula dikhawatirkan membuat usus bayi terluka dan tidak memiliki zat antibodi seperti halnya ASI," kata Agoes.(*)

Sumber: Antara, Minggu, 28 November 2010

BKKBN: 51 Persen Remaja Jabodetabek Tidak Perawan

Jakarta (ANTARA News) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mencatat hasil survei pada 2010 menunjukkan, 51 persen remaja di Jabodetabek telah melakukan seks pranikah. "Artinya dari 100 remaja, 51 sudah tidak perawan," ujar Kepala BKKBN Sugiri Syarief usai memberikan sambutan acara Grand Final Kontes Rap dalam memperingati Hari AIDS Sedunia di lapangan parkir Monas, Jakarta Minggu (28/11). Hasil survei untuk beberapa wilayah lain di Indonesia, seks pranikah juga dilakukan beberapa remaja, misalnya saja di Surabaya tercatat 54 persen, di Bandung 47 persen, dan 52 persen di Medan. "Hasil penelitian di Yogya dari 1.160 mahasiswa, sekitar 37 persen mengalami kehamilan sebelum menikah," kata Sugiri. Selain itu, data tentang penyalahgunaan narkoba menunjukkan, dari 3,2 juta jiwa yang ketagihan narkoba, 78 persennya adalah remaja. Sedangkan penderita HIV/AIDS terus meningkat setiap tahunnya. Solusinya, lanjut Sugiri Syarif, konseling untuk remaja agar tidak melakukan seks pra nikah akan terus dilakukan. Dari rilis BKKBN yang diterima wartawan diketahui, estimasi jumlah aborsi di Indonesia per tahun mencapi 2,4 juta jiwa. 800 ribu di antaranya terjadi di kalangan remaja. Berdasarkan data Kemenkes pada akhir Juni 2010 terdapat 21.770 kasus AIDS dan 47.157 kasus HIV positif dengan persentase pengidap usia 20-29 tahun yakni 48,1 persen dan usia 30-39 tahun sebanyak 30,9 persen. Selain itu kasus penularan terbanyak adalah heteroseksual sebanyak 49,3 persen, homoseksual sebanyak 3,3 persen dan IDU (jarum suntik) 40,4 persen.(*)

Sumber: Antara, Minggu, 28 November 2010

10 Kesalahan Berkas Lamaran Pekerjaan

KOMPAS.com - Resume atau berkas lamaran pekerjaan seharusnya berisi segala hal mengenai diri dan kelebihan Anda. Hal tersebut, sebaiknya dibuat dengan ringkas, mudah dibaca, mudah dimengerti, dan menonjolkan alasan mengapa Anda yang sebaiknya dipilih untuk menempati pekerjaan yang Anda tuju itu. Sebelum dikirimkan, Anda harus membaca berulang-ulang untuk memastikan bahwa isinya sudah cukup tepat dan menceritakan tentang diri Anda. Anda mungkin butuh waktu berjam-jam untuk menyusun resume Anda, tetapi si pewawancara mungkin hanya butuh beberapa menit saja untuk membacanya. Ketika ada kesalahan, tanpa segan-segan melewatkan resume Anda. Pastikan resume Anda dibaca lengkap serta tidak terhempas begitu saja karena ada kesalahan umum yang sebenarnya bisa dihindari. Berikut adalah beberapa kesalahan umum yang bisa Anda hindari:

1. Tidak menyertakan surat pengantar lamaran

Surat lamaran pekerjaan (bukan curriculum vitae), bernilai penting pada saat pemrosesan pembacaan surat lamaran pekerjaan. Banyak perusahaan yang langsung membuang berkas lamaran pekerjaan yang tak menyertakan surat pengantar tersebut. Pastikan Anda menuliskan ringkasan riwayat diri Anda dengan tepat pada cover letter. Jelaskan mengenai kualifikasi Anda, jarak antara waktu kerja yang cukup jauh, serta informasi lain yang sekiranya dibutuhkan oleh perusahaan yang Anda tuju.

2. Berpikir bahwa salah ketik itu wajar

Dalam survei yang dilakukan kepada para HRD (Human Resources Department), kesalahan yang tersering mereka lihat dalam resume adalah kesalahan pengetikan atau sering disebut "typo". Jangan segan untuk meminta orang lain membaca kembali berkas lamaran pekerjaan Anda untuk memastikan tidak ada kesalahan, apalagi jika Anda mengirim lamaran dalam bahasa Inggris atau bahasa lain yang sebenarnya belum Anda kuasai.

3. Terlalu generik

Ada banyak contoh penulisan surat lamaran pekerjaan yang bisa Anda contoh. Tetapi, saking umumnya, kadang para pembaca surat lamaran pekerjaan itu jadi hafal polanya. Nah, pastikan Anda menuliskan lamaran pekerjaan tepat guna dengan posisi yang Anda tuju. Buat surat lamaran pekerjaan Anda cukup personal dan tidak terlihat seperti Anda setengah hati melamarnya. Apalagi ternyata terselip nama perusahaan lain yang pernah Anda coba kirim lamaran. Uh, sudah pasti berkas Anda langsung disingkirkan.

4. Memfokuskan pada tugas, bukan hasil akhir

Ketimbang menuliskan daftar penugasan yang pernah Anda kerjakan, lebih baik Anda tuliskan apa saja hasil yang pernah Anda dapatkan dan bagaimana hal tersebut membantu perusahaan. Contoh, jika Anda pernah berhasil berkontribusi pada pendapatan perusahaan saat mencapai penghasilan tertinggi dalam sejarah dengan program yang Anda buat, maka tempat Anda melamar akan sangat tertarik pada Anda.

5. Obyektif egois

Para pencari pekerja akan mencoba melihat apakah Anda adalah kandidat yang tepat untuk posisi di lembaga mereka, jadi, apa pun yang ada di dalam resume Anda seharusnya merujuk kepada pengalaman dan keberhasilan Anda. Ringkasan kualifikasi yang menceritakan mengenai keberhasilan Anda akan lebih efektif ketimbang pernyataan tujuan Anda yang generik.

6. Format resume yang "berbunga-bunga"

Tentu, penggunaan kertas berwarna pink dan penggunaan huruf yang besar-kecil dengan warna yang berbeda-beda akan membuat berkas lamaran Anda terlihat berbeda dan menonjol, tetapi bukan dalam artian yang bagus. Biasakan untuk menuliskan resume menggunakan kertas dan font yang standar saja. Gunakan tipe font Arial atau Times New Roman berwarna hitam di atas kertas putih..

7. Salah cantum gelar dan tanggal

Salah satu kesalahan yang sering tertangkap adalah kesalahan pada pencantuman gelar. Ada yang saking bersemangatnya, gelar tersebut sudah dicantumkan, pada saat ia mengirimkan lamaran, padahal wisuda atau kelulusannya baru akan diadakan bulan depan. Memaksakan hal tersebut bisa membuat Anda terlihat seperti "berbohong".

8. Alasan pergi dari kantor lama

Jangan mencantumkan sesuatu yang bernada negatif dalam resume Anda (juga saat wawancara kerja). Jika Anda meninggalkan posisi lama karena pengurangan tenaga kerja atau karena dipecat, sebaiknya ungkapkan hal tersebut hanya jika ditanya.

9. Mencantumkan terlalu banyak informasi personal

Jika tak ada hubungannya dengan karier Anda, tak usah cantumkan kegiatan pribadi Anda. Begitu pun dengan tinggi atau berat badan (kecuali memang diminta), afiliasi dalam bidang agama, orientasi seksual, hobi memancing, atau apa pun yang bisa berbalik menghakimi Anda.

10. Terlalu panjang

Jika ada pekerjaan di masa lalu yang tak lagi relevan dengan karier Anda, sebaiknya tak usah dicantumkan. Panjang halaman resume disarankan tak lebih dari 2 halaman. Jadi, pastikan Anda mencantumkan hal-hal yang relevan saja. Para manager HRD, dalam survei yang dilangsungkan oleh Careerbuilder, 21 persen responden mengatakan resume yang lebih panjang dari 2 halaman terlalu panjang, membosankan, dan banyak salahnya.

Sumber: Kompas.com, Senin, 29/11/2010

Friday, November 26, 2010

WHO: 600.000 Perokok Pasif Tewas Tiap Tahun

London (ANTARA News/Reuters) - Sekitar satu dari 100 penyebab kematian di dunia diakibatkan merokok pasif, yang diperkirakan menewaskan 600.000 orang per tahun, menurut temuan para peneliti Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat. Dalam penelitian pertama untuk menaksir pengaruh dari merokok pasif, para pakar WHO menemukan anak-anak lebih terekspos pada asap rokok orang lain dibanding kelompok usia lainnya, dan akibatnya sekitar 165.000 diantaranya akan meninggal. "Dua per tiga dari kematian tersebut terjadi di Afrika dan Asia selatan," kata para peneliti yang diketuai oleh Annette Pruss-Ustun dari WHO di Jenewa, yang menulis temuan itu. Eksposur anak pada asap rokok seringnya terjadi di rumah, dan penyakit infeksi dan tembakau merupakan kombinasi mematikan bagi anak-anak, kata mereka. Mengomentari penemuan yang ditulis pada jurnal Lancet, Heather Wipfli dan Jonathan Samet dari Universitas Southern California mengatakan banyak pengambil kebijakan mencoba memotivasi keluarga agar berhenti merokok di dalam rumah. "Di beberapa negara, banyak rumah bebas rokok tetapi masih jauh dari umum," tulis mereka. Para

ilmuwan WHO menggunakan data dari 192 negara untuk penelitian mereka. Guna mendapat data komprehensif dari seluruh 192 negara itu, mereka harus kembali pada 2004. Mereka menggunakan contoh matematis untuk memperkirakan kematian dan lamanya kematian dalam kesehatan baik. Secara global, 40 persen anak-anak, 33 persen laki-laki non-perokok dan 35 persen perempuan non-perokok terekspos rokok pasif pada 2004, menurut temuan mereka. Hasil eksposur ini diperkirakan menimbulkan 379.000 kematian akibat penyakit jantung, 165.000 infeksi pernapasan bawah, 36.900 dari asma dan 21.400 dari kanker paru-paru. Untuk pengaruh penuh merokok, kematian ini dapat menambah dari estimasi 5,1 juta kematian per tahun pengguna aktif tembakau, kata kelompok peneliti itu.

Anak-anak
Meski kematian anak-anak umum terjadi di negara-negara miskin dan menengah, kematian pada orang dewasa tersebar di seluruh negara dengan berbagai tingkat pendapatan. Negara-negara berpendapatan tinggi seperti Eropa, hanya 71 anak yang meninggal, sementara 35.388 kematian terjadi pada orang dewasa. Di Afrika, diperkirakan 43.375 kematian anak dibanding 9.514 kematian pada orang dewasa. Pruss-Ustun mendesak banyak negara untuk memperkuat Kerangka Konvensi Pengendalian Tembakau milik WHO, seperti meninggikan pajak tembakau, membuat bungkus rokok yang polos dan pelarangan iklan produk tembakau. "Pembuat kebijakan harus mengetahui bahwa menegakkan hukum bebas rokok kemungkinan akan banyak mengurangi angka kematian disebabkan dari eksposur rokok pasif dalam tahun pertama dari implementasinya, disertai dengan berkurangnya penyakit dalam sistem sosial dan kesehatan," tulisnya. Hanya 7,4 persen penduduk dunia yang hidup dalam naungan hukum bebas rokok, dan hukum tersebut tidak selalu ditegakkan. Tempat yang sudah diberlakukan peraturan bebas rokok, penelitian itu menunjukkan bahwa eksposur pada rokok pasif dalam tempat beresiko tinggi seperti bar dan restoran dapat dipotong hingga 90 persen, dan umumnya hingga 60 persen, kata para peneliti. Penelitian tersebut juga menunjukkan peraturan membantu mengurangi angka rokok yang dibakar oleh perokok dan menghasilkan tingkat kesuksesan tinggi pada orang yang ingin berhenti merokok.(KR-IFB/H-RN/S026)

Sumber: Antara, Jumat, 26 November 2010

Pendidikan HIV/AIDS Perlu "Di-review"

JAKARTA, KOMPAS.com - Pendidikan tentang HIV/AIDS sudah terintegrasi lewat beberapa mata pelajaran di sekolah seperti Biologi, bahasa Indonesia, Pendidikan Jasmani Kesehatan, dan lain-lainnya. Akan tetapi kurikulum tersebut juga akan di-review supaya jelas topik yang sangat penting atau tidak untuk bisa masuk kurikulum sehingga tepat sasaran. Demikian dikatakan Dirjen Pendidikan Non Formal dan Informal Kementrian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) Hamid Muhammad di Jakarta, Jumat (26/11/2010). Pengkajian ulang tersebut dimaksudkan agar edukasi tentang HIV/AIDS menjadi lebih mudah dimengerti. "Dengan review ini diharapkan pendidikan mengenai HIV/AIDS tidak abu-abu,” tandas Hamid. Menurut dia, pencegahan penularan HIV/AIDS melalui sektor pendidikan dilakukan oleh Kemdiknas, baik melalui jalur formal maupun informal dengan cara memasukkan masalah HIV/AIDS agar terintegrasi dengan kurikulum pendidikan dasar, menengah, dan tinggi, serta melalui penyebarluasan buku pedoman, modul, poster, dan televisi. Pekan depan, tepatnya pada 1 Desember, Kemdiknas juga akan menyelenggarakan peringatan hari AIDS Sedunia. Tahun ini peringatan tersebut bertema Universal Acces and Human Right (Akses Universal dan Hak asasi Manusia) dengan subtema Peningkatan Hak dan Akses Pendidikan untuk Semua Guna Menekan Laju Epidemi HIV/AIDS di Indonesia menuju tercapainya Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs)”, serta slogan “Stop Aids”: Tingkatkan Hak dan Akses Pendidikan untuk semua. Arif Rahman, Ketua Harian Komite Nasional Unesco untuk Indonesia mengatakan, dalam memperingati hari AIDS Sedunia masih banyak dirayakan dengan perayaan. “Diharapkan dengan 50 persen lagi bisa diisi dengan kegiatan-kegiatan yang lebih positif seperti workshop atau seminar. Isi kegiatan harus lebih kontekstual dibandingkan yang sudah-sudah,” kata Arif.

Sumber: kompas.com, Jumat, 26 November 2010

Peneliti Temukan Pil Pencegah HIV

VIVAnews - Selama ini nama HIV (Human immunodeficiency virus) selalu menjadi momok yang sangat menakutkan, karena belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Setidaknya, baru-baru ini, para ilmuwan menemukan sebuah pil yang diklaim bisa mengurangi risiko terkena penyakit HIV secara dramatis. Menurut New York Times, pencegahan HIV dengan menggunakan pil bernama Truvada, berhasil mengurangi infeksi HIV secara dramatis dalam sebuah riset terhadap 2.500 laki-laki. Melalui sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh New England Journal of Medicine, dari ratusan laki-laki gay yang secara acak diberikan obat ini, ternyata hanya 44 persen di antaranya yang terinfeksi penyakit HIV. Namun, menurut Dr Anthony Fauci, Kepala Divisi National Institute of Health, yang melakukan survei tersebut, pil tersebut 90 persen lebih efektif bagi para pria gay yang benar-benar meminum pilnya secara jujur setiap hari. "Angka itu sangat tinggi," kata Dr Fauci, yang dalam riset ini bekerja sama dengan Bill and Melinda Gates Foundation. Pil bernama Truvada itu dijual begitu mahal di Amerika Serikat, yakni sekitar US$12.000 (Rp 107 juta) hingga US$14.000 (Rp125 juta). Tapi versi generik dari Truvada sudah tersedia di negara-negara dunia ketiga, dan dijual hanya seharga 40 sen (sekitar Rp1.500) untuk setiap pil. Sayangnya, walaupun perusahaan kesehatan dan asuransi akan membayar klaim obat untuk HIV bagi orang-orang yang telah terinfeksi penyakit ini, namun hingga kini belum ada kebijakan untuk menutup klaim obat pencegah HIV, bagi orang-orang yang belum terinfeksi. Selain itu kelemahan dari pil ini adalah efek samping yang ditimbulkannya. Pil ini ternyata dapat menyebabkan pusing-pusing dan rasa mual yang signifikan. Selain itu, para peneliti mengkhawatirkan penyebaran penggunaan Truvada untuk tujuan preventif malah justru memicu tipe HIV lain yang lebih kebal. Sebab, bila seseorang terinfeksi dan ia terus meminum Truvada, maka virus yang diidapnya bisa justru tumbuh menjadi virus yang kebal terhadap Truvada dan virus itu bisa menyebar ke orang lain. (umi)

Sumber: vivanews.com. Kamis, 25 November 2010

Saturday, November 13, 2010

Penderita HIV/AIDS Kota Malang Capai 1.500 Orang

Malang (ANTARA News) - Jumlah penderita penularan virus dan merapuhnya kekebalan tubuh (HIV/AIDS) di Kota Malang, Jawa Timur, pada tahun 2010 mengalami peningkatan cukup tajam, yakni mencapai 1.500 orang. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, Enny Sekar Rengganingati, Minggu, mengakui bahwa peningkatan jumlah penderita dan yang terinveksi HIV/AIDS pada tahun ini (2010) cukup tinggi. Dari 900 orang penderita pada tahun 2009, saat ini sudah mencapai 1.500 orang. "Jumlah 1.500 penderita ini yang terdeteksi melalui konseling atau klinik Voluntary Counselling and Testing for AIDS (VCT) yang ada di RSSA dan RSI Unisma dan yang tidak terdeteksi mungkin juga ribuan, karena masyarakat belum terbiasa dan menjadi budaya untuk memeriksakan diri (tes) HIV/AIDS," ujarnya. Ia mengakui, kecenderungan penderita kelompok ibu rumah tangga pada beberapa tahun terakhir terus meningkat. Dari total jumlah penderita yang terinveksi HIV/AIDS tersebut sekitar 5-10 persen adalah ibu rumah tangga dan 5 persen dari kelompok pelajar. Untuk menekan dan meminimalkan jumlah masyarakat yang terjangkit HIV/AIDS tersebut, katanya, Dinkes bersama berbagai pihak termasuk Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Malang secara intens melakukan penyuluhan ke seluruh wilayah untuk berbagai kelompok.

Jika kelompok risiko tinggi HIV/AIDS, seperti pekerja seks komersial (PSK), homoseksual dan waria, lanjutnya, penyuluhannya melalui even-even tertentu, kelompok ibu rumah tangga, penyuluhannya melalui program kesejahteraan keluarga (PKK) rukun tetangga maupun rukun warga (RT/RW) atau pengajian-pengajian yang rutin diselenggarakan kaum perempuan di lingkungannya masing-masing. Selain itu, kata Enny, pihaknya juga meningkatkan peran dari kelurahan siaga untuk membantu melakukan penyuluhan kepada masyarakat di lingkungan kelurahan masing-masing. "Pokonya penyuluhan tidak hanya dilakukan di lembaga resmi atau di sekolah saja, namun sudah menyentuh seluruh lapisan masyarakat," kata Enny. Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Malang, Bambang Priyo Utomo, mengakui bahwa darah yang didonorkan para pendonor di PMI setempat sekitar 20 persennya mengandung HIV/AIDS. "Kita tahu personel yang mendonorkan darahnya dan mengandung virus mematikan itu, namun kita tidak bisa langsung memberitahu yang bersangkutan. Kita upayakan dengan cara halus untuk tes darah di klinik atau RSSA, baru hasilnya diberikan secara langsung kepada yang bersangkutan," ujarnya menambahkan. Menurut Bambang yang juga Wakil Wali Kota Malang itu, darah donor yang mengandung virus HIV/AIDS langsung dimusnahkan dan darah donor yang sehat juga diproses melalui berbagai tahapan termasuk penyaringan (screening). (T.E009/P003)

Sumber: Antara, Minggu, 14 November 2010