VIVAnews - Setelah menangkap pelaku prostitusi anak melalui internet pekan lalu, hingga kini Kepolisian Resor Jakarta Pusat terus pengembangan jaringan lain dari praktek ini. Selain akan mencari jaringan lain, polisi juga menelusuri pria hidung belang yang kerap masuk dalam praktek prostitusi anak-anak yang masih pelajar SMP ini. Berdasarkan hasil pemeriksaan polisi, ada lebih dari seratus orang yang telah diperjualbelikan oleh pelaku DD, untuk kepentingan eksploitasi seksual. Sementara, polisi baru mengamankan tujuh korban pelajar sekolah tingkat SMP. Berdasarkan keterangan, mereka dijual dengan tarif Rp500 ribu hingga Rp2 juta. Mengapa para pelajar SMP ini rentan terjerumus praktek prostitusi? Menurut Kriminolog Universitas Pertama, para gadis belasan tahun ini masih senang hidup berkelompok dan meniru sikap teman satu kelompoknya serta mengatasnamakan solidaritas. Ketika salah satu teman kelompoknya terjun dalam dunia yang hitam yang dianggap menawarkan keuntungan, mereka pun tidak segan mengikuti. Sehingga tidak heran jika para korban umumnya tinggal berdekatan atau dalam satu sekolah. Kedua, kemungkinan para gadis usia belasan tahun itu ingin hidup mewah dan memiliki sesuatu benda mewah seperti yang dimiliki temannya. Dan prostitusi dianggap sebagai jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan mereka terhadap materi. Ketiga, karena keterbatasan pengetahuan para gadis itu atas bahaya yang mengancam seperti penyakit kelamin dan lainnya. Sehingga membuatnya lebih berani dan hal ini akan mudah dimanfaatkan. "Dengan bujuk rayu dan iming-iming tentu akan lebih mudah," katanya.
"Ini tentu berbeda dengan gadis yang berusia di atasnya yang melakukan penuh kesadaaran," ujar Adrianus Meilala kepada VIVAnews.com. Sementara itu, mengenai realitas maraknya praktek prostitusi melalui jejaring sosial yang mewabah di dunia maya, Adrianus menilai para orang tua sudah seharusnya mengikuti perkembangan teknologi agar dapat mengawasi pergaulan anaknya. "
Sumber: vivanews.com, Senin, 24 Januari 2011
0 komentar:
Post a Comment